Minggu, 17 Juli 2011

Mencoba Me review Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2


Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 Official Trailer

Author's Note: Beda dengan review film lainnya di blog ini, review kali ini adalah untuk film baru!--Akhirnyaaa....gak telat-telat amat... Enjoy reading guys.
 
Kadang-kadang dialog gombal kala kencan di malam minggu (atau malam jum’at—untuk yang doyan demit atau yang susah bagi waktu dengan selingkuhan) macam: 

“Kamu maunya kemana malam ini?”
 
“Ah, kemana aja enak, asalkan sama kamu.”
 
…itu ada sedikit bener—atau malah—banyak benernya. Kalo dipikir-pikir lagi, bagi yang udah berpasangan lama dan sering jalan bareng, bisa jadi semua tempat makan, tempat nongkrong, sampe pangkalan ojek (kalo majikan lagi gak ada di rumah) pasti udah pernah disambangi. Yang membuat kencan itu nikmat adalah dengan siapa kita berkencan—atau kalo kita ngomonginnya sebatas pertemanan saja—dengan siapa kita nongkrong. Kalo udah nyaman dengan teman kencan/nongkrong, kita sudah sanggup melupakan fakta bahwa: (1) agenda kencan kita sebenernya cuma sebatas nonton DVD bajakan (2) itupun di kamar kos an pula (3) to make matters worse, penghuni kos yang lain pada nyanyi dan ngecengin kita dari jendela (4) tambah lagi kamar kos-nya pun terletak pas di samping kuburan dan (5) abis filmnya kelar kita baru sadar kalo yang tinggal di kos-an ini kan cuma cewek kita—trus yang daritadi nyanyiin kita dari jendela siapa dong??

...Aaaaanyway, intinya, kalo kita sudah menemukan pacar yang menyukai kita apa adanya (bukan ada apanya), pasangan ataupun teman-teman yang klik, kita bisa dengan mudah memaafkan kelemahan/kekurangan yang ada (sampai kadar tertentu pastinya), entah itu masalah tempat pertemuan yang sebenarnya itu itu saja, joke-joke yang sebenernya bikin jatuh kasihan, sampe lagu di tape atau CD player yang rasanya pengen kita patahin jadi dua. However, we endure, and we enjoy because we love the person (or the people) we are talking to. Inilah yang terjadi pada gua (dan mungkin juga terjadi pada beberapa dari anda), setelah bertahun-tahun membaca dan atau menonton serial Harry Potter. Topiknya atau temanya tentu sudah ketahuan dari mulai buku/film kelima, and yet we still want to read/see more. Tempatnya ya pastinya itu-itu saja (namely, Hogwarts) karena sudah diperkenalkan dari mulai buku pertama. Orang-orangnya? Ya dia-dia juga (karena akan aneh kalo tiba-tiba Harry Potter diganti oleh Budi Anduk) . Opening credits nya? Ya sama-sama saja. Tinggal latar langitnya aja dibikin tambah mendung in each successive films. Kenapa juga begitu banyak orang rela mengikuti kisah bocah tukang sihir ini sampai tujuh buku dan delapan film? Di film terakhirnya yang berjudul Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 ini akhirnya gua menemukan jawabannya.

Sebelum saya uraikan kesan-kesan saya pada jilid pamungkas Helikopter—halah—Harry Potter ini, mungkin sebaiknya kita baca dulu ringkasan ceritanya: setelah menghancurkan tiga dari tujuh Horcrux (i.e. objek/benda-benda yang mengandung pecahan jiwa/ruh sang penyihir kegelapan, Voldemort) di film-film sebelumnya yang mencakup sebuah buku diary (yang berhasil dihancurkan oleh Harry di film kedua: Harry Potter and the Chamber of Secrets), sebuah cincin (yang dihancurkan—walaupun tidak divisualisasikan di film maupun di buku—oleh sang mendiang kepala sekolah Hogwarts, Albus Dumbledore) dan sebuah kalung (yang dihancurkan oleh sahabat Harry yang sedikit menderita inferiority complex, Ron Weasley), Harry dan kawan-kawan kembali memburu empat Horcrux yang masih tersisa demi membinasakan Voldemort eternally, forever dan selama-lamanya.. Namun tentu saja misi perburuan Horcrux ini tidak semudah memesan bakso dan mi tek tek, karena jelas sang empunya Horcrux (i.e. Voldemort) tentu akan menghalangi misi Kang Heri dengan segala cara, termasuk mengancurkan sekolah sihir Hogwarts dengan seluruh penghuninya.

Bagi orang-orang yang sudah baca bukunya, “menanti twist yang mengejutkan” tentu sudah bukan pilihan lagi karena toh kita (i.e. yang sudah baca bukunya) sudah tahu semua plot twist atau kejutan yang akan disuguhkan di dalam cerita. Yang bisa dilakukan hanyalah berharap apakah sang sutradara (i.e. David Yates, yang sudah menyutradarai empat film Harry Potter termasuk yang ini) sanggup mengimbangi imajinasi jutaan pembaca yang sudah membaca bukunya, karena sungguh, sebenarnya para pembaca buku Harry Potter sudah membuat film hasil imajinasi mereka masing-masing saat membaca bukunya. Kita tinggal melihat apakah the director’s vision is able to measure up to our version. Jawabannya, untuk film ini, menurut saya: belum. Saya merasa, selagi menonton film ini, kepala saya terus bergumam: “Oke, abis adegan ini mereka pasti ke sini, abis itu ke sini, abis itu klimaks nya begini, abis itu si itu mati, oh si itu mati juga” and to be fair, for faithful Harry Potter readers, this thing is inevitable. Tapi cuma pilihan inilah yang kita dapat, antara lain: (1) Film Harry Potter dibikin sesuai dengan bukunya, seperti film-film adaptasi sahih lainnya—dengan resiko, kita sebagai pembaca, jujur deh, sudah sulit merasa tegang atau kaget atau terhenyak lagi—wong kita sudah tahu isinya bakal seperti apa kok. Atau pilihan kedua: (2) film Harry Potter dibikin beda jauh sama pembuatnya—yang tentu saja akan berakhir dengan demo dan pembakaran bioskop. Kita, untungnya, disuguhi pilihan pertama.

That’s not entirely a bad thing. Seperti yang saya bilang di atas tadi, ada sesuatu yang membuat banyak dari kita (Harry Potter readers and non-readers alike) rela menonton setiap film Harry Potter baru yang keluar, sampe sekarang—walaupun mungkin sudah tahu isinya bakal seperti apa. Dan sesuatu itu, menurut saya, adalah—antara lain: (1) karakter/tokoh-tokoh yang diciptakan dengan sangat sangat bagus. (2) chemistry antara tokoh-tokoh tersebut di film, dan chemistry mereka ke kita dan (3) familiarity kita sama semua hal menyangkut Harry Potter. It’s just like us with our friends or spouse. Kita bisa nyambung dengan teman-teman kita karena kita suka karakter mereka, kita punya chemistry dengan mereka dan kita (lama-lama) terbiasa dengan mereka. Apa yang terjadi jika teman/sahabat/pacar kita mendadak harus pergi jauh untuk sekolah, kerja atau bahkan diculik UFO? Tentu kita akan menemani untuk terakhir kalinya, bahkan mengantarkan ke bandara, stasiun, sampai pangkalan UFO. And in the case of the last Harry Potter movie, we go for him to the cinema.

Film ini memang jadi ajang nostalgia dan perpisahan dengan hal-hal yang berhubungan dengan film Harry Potter. Nyaris semua tokoh ataupun lokasi (sampai musik) yang sempat muncul di film-film terdahulu dimunculkan lagi di film ini dan hal-hal ini (apalagi di saat klimaks dan ending) sukses ngebuat penonton memiringkan kepala dan berkata: “Aaaaawww...” Ada juga beberapa kejutan berkenaan dengan tokoh-tokoh yang sebelumnya tampil misterius dan abu-abu (for Harry Potter readers, pasti sudah tahu apa yang saya maksud—dan adegan-adegan inilah yang menurut saya—nyaris sesuai dengan imajinasi saya saat membaca bukunya). Untuk adegan-adegan serunya seperti kejar-kejaran atau perang-perangan? Tentu sudah kurang mendebarkan lagi karena toh kita sudah tahu siapa yang selamat dan siapa yang tidak. However, special mention has to be made to the sequence involving fire that won’t die and a bunch of our heroes. Adegan itu terlihat menyeramkan bagi saya. Baguss.

All in all, this film serves as a solid entertainment. And a fitting farewell to our beloved friends, Harry Potter dan kawan-kawan. Harry, Ron dan Hermione sudah begitu akrab di mata kita sekarang, dan akhir kisah mereka ditutup dengan manis di film ini. Para pemerannya sendiri, terutama sekali Daniel Radcliffe—khusus di film ini—menurut saya memberikan performa yang mengesankan. Dia benar-benar muncul sebagai pahlawan di sini. Harry Potter versi film akhirnya bisa menyamai karakter hero yang ditulis pengarangnya: J.K. Rowling. Dan satu lagi, untuk Alan Rickman, pemeran karakter paling kompleks di buku dan di film, yaitu Profesor Snape, saya angkat topi. Menurut saya dia tampil luar biasa.

Intinya, dibalik beberapa kekurangan (mainly kurang tegang, considering that this is the last installment), film Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 tetap harus ditonton oleh penggemar Harry Potter (baik itu pembaca bukunya, atau bagi yang hanya menonton filmnya) karena—yah—karena, kemungkinan, Harry tidak akan menyambangi bioskop lagi di tahun tahun mendatang. Ini pertemuan terakhir kita dengan dia dan teman-temannya (kecuali kalau ibu J.K. Rowling atau Warner Bros membikin prolog, lanjutan atau spin-off nya) dan film ini merupakan “farewell party” digelar di bioskop di seluruh dunia. Would you miss a chance of going to your friend’s farewell party?

Dio

Sabtu, 06 November 2010

The Children


The Children Official Trailer

Semua yang demen nonton film pasti sadar bahwa ada beberapa hal yang dengan sengaja, sangat jarang atau bahkan tidak pernah ditunjukkan di dalam sebuah film. Mungkin karena, kalau hal tersebut ditunjukkan, bisa membuat film yang bersangkutan kehilangan greget, dicap konyol atau bahkan dianggap amoral. Contoh, tidak pernah ada kejadian seorang pendekar atau tentara salah tusuk atau salah tembak temennya sendiri dalam adegan peperangan yang serba cepat. Tidak pernah ada yang menunjukkan bagaimana Supermen mengancingkan kemejanya kembali (yang pasti udah jebol karena dirobek paksa) ketika ingin kembali jadi Clark setelah menyelamatkan dunia dari serangan misil-nya Lex Luthor. Tidak pernah ada adegan memperlihatkan Tarzan dan pasukan Sparta melakukan MCK. Tidak pernah juga ada adegan pembunuh berantai menelepon ke rumah korban tapi diangkat oleh anak TK atau pembantu (kecuali pembantunya remaja, cantik dan jago jerit-jerit). DAN, tidak pernah ada film mainstream yang secara eksplisit menunjukkan orang dewasa melukai anak-anak usia playgroup. “Prinsip Sopan Santun Film” yang terakhir saya sebut ini, akhirnya ditumbangkan oleh sebuah film inggris berjudul The Children.
 
The Children memiliki plot yang sekilas serupa dengan film tentang bocah-bocah uedhyan yang demen bikin setres orangtuanya (contoh The Omen, Children of the Corn, Village of the Damned, Orphan, sampai Dora the Exporer— lagian kerjaannya kelayapan ke hutan mulu sih. Gimana orangtuanya gak deg-degan coba). Namun sutradaranya membuat film ini berjalan dua kali lebih jauh, melompati pakem yang bahkan haram hukumnya untuk dilewati film-film horor kelas ekstrim sekalipun.

Film ini dimulai dengan berkumpulnya dua keluarga di sebuah rumah/vila di tengah hutan bersalju untuk merayakan tahun baru bersama. Masing-masing keluarga terdiri dari suami istri dengan anak-anak mereka yang kebanyakan usia playgroup sampai SD. Anak yang paling besar adalah seorang remaja putri bergaya emo sudah memasuki usia SMU. Sang remaja putri, sebagaimana anak-anak gaoel seusianya, tidak menyukai acara kumpul-kumpul keluarga seperti ini. Si putri lebih suka pergi partay dengan teman-temannya daripada bercengkerama dengan sepupu-sepupu hiperaktif yang tampaknya terlalu banyak menegak Kratingdaeng. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur dan Cinta Fitri season 6 sudah semakin ngawur. Sang remaja tidak punya pilihan lain selain menggerutu dan sms an dengan temannya, berharap bisa dijemput keesokan harinya. Sayang, impiannya untuk bisa gila-gilaan di pesta terpaksa kelelep di Kali Sunter karena ternyata apa yang terjadi di dalam villa bersalju itu benar-benar jauh lebih sarap daripada konser trio maut Julia Perez, Aura Kasih dan Bang Haji Rhoma sekalipun.

Kegilaan itu, sebagaimana sudah disinyalkan dari judul filmnya, bermula dari anak-anak Teri Asin (Terlalu Imut dan Asli ngegemeSin) yang tiba-tiba saja berubah menjadi lebih liar daripada banteng rodeo. Dalam hitungan jam setelah berkumpul di villa tersebut, satu per satu anak-anak mulai membuat kacau suasana dengan menjerit-jerit, menangis, dan meronta-ronta. Para orangtua, sebagaimana umumnya orang tua, menganggap bahwa buah hati mereka hanya bersikap seperti layaknya anak-anak (yaitu..well.. senang menjerit, menangis dan meronta). Namun kemudian anak-anak tersebut mulai menyakiti. Kemudian melukai. Dan kemudian membunuh.

Sampai di sini, anda pasti sudah tahu hal-hal tabu macam apa yang ditunjukkan dalam The Children. Adegan anak-anak menyakiti orang dewasa mungkin sudah sering anda lihat di berbagai film horor (seperti the Omen, the Exorcist, Orphan, Power Puff Girls sampai Bayi Ajaib) tapi kemungkinan anda belum pernah melihat apa yang terjadi jika para orangtua membalas perbuatan anak-anak mereka sendiri dalam keadaan terdesak. Pertanyaan mengerikan inilah yang dilempar oleh Tom Shankland, sutradara film The Children, kepada penonton: Apakah anda tega menyakiti buah hati anda sendiri jika mereka dengan sengaja membahayakan nyawa anda?

Di dalam film ini, pertanyaan di atas dijawab dengan memperlihatkan berbagai adegan, salah satunya adegan dimana seorang ibu, yang benar-benar dalam keadaan terluka dan terpojok, tidak mampu (atau tidak mau) membela dirinya saat sekumpulan anak berjalan mendekat sambil menghunuskan pisau. Atau betapa para orangtua merasa dirinya bagai monster ketika mereka benar-benar menyakiti anak-anak mereka. Film The Children ini berulangkali membuat saya meremas mulut saya, mencegahnya supaya tidak jatuh menganga, bukan karena digarap secara eksploitatif, murahan dan hanya mengejar shock value (as if the director is saying: “Look i’m cutting edge artist, I break boundaries!”). Sebaliknya, film ini digarap dengan skillful, dan penuh gaya (ada beberapa shot-shot keren yang membuat penonton merasa melihat adegan luar biasa sadis, yang ternyata—jika ditonton ulang—adegan luar biasa sadis itu tidak pernah diperlihatkan). Hal ini yang juga dijadikan senjata oleh Tom Shankland, sang sutradara. Dia tahu betapa tidak nyamannya penonton jika ada anak-anak kecil dimasukkan ke dalam film horor. Dia tahu bahwa kita (penonton) punya batas toleransi yang minim terhadap adegan kekerasan terhadap anak-anak. Dan, di dalam film ini, ketika tiba saatnya para orangtua untuk membela diri, penonton (atau setidaknya saya) sudah dibuat begitu miris dengan apa yang akan terjadi. It’s like we knew this moment will come. We just didn’t think the director would dare to put it on screen. And then he does.

Ada beberapa sentuhan kecil yang turut menaikkan tensi film The Children. Tokoh anak-anak yang secara mendadak berubah anarkis di film ini diceritakan tetap merupakan anak-anak. Ini berarti mereka sebenarnya memiliki kekuatan setara anak-anak normal lainnya. Mereka bukan personifikasi setan, iblis ataupun babi ngepet—yang seringkali dipergunakan sebagai justifikasi untuk memusnahkan mereka di film-film lain—melainkan “hanya” sekumpulan anak-anak biasa yang tampaknya terserang suatu penyakit yang membuat mereka menggila (film ini tidak pernah menjelaskan mengenai apa yang sebenarnya yang menyerang anak-anak tersebut, yang menurut saya malah menaikkan aura “What the F*ck is Going on” yang menyelimuti film ini).

Akhir kata, saya angkat topi untuk sang sutradara, bukan karena saya menyukai topik atau isu yang dia angkat, tapi karena, sebagai penggemar film bergenre seperti ini, saya senang melihat sineas yang berani menggodok ide baru yang—terus terang, agak gila—seperti ini dan menggarapnya dengan baik dan enak dinikmati (untuk penggemar horor). Saya akan mencatat nama Tom Shankland dalam daftar must watch director di kepala saya dan menunggu film apalagi yang akan dihasilkannya setelah ini. Seorang sutradara Indonesia (yang bisa anda follow twitter-nya) mengatakan kurang lebih seperti ini (very loose quote): “Sebuah premis yang menarik adalah premis yang menggambarkan tokoh-tokoh utamanya, keadaan apa yang menimpa mereka, dan bagaimana sulitnya mereka terbebas dari keadaan tersebut, semuanya terangkum dalam satu kalimat. Kalau prinsip ini diterapkan pada film The Children, menurut saya film ini memiliki premis film horor yang dahsyat.
 

Sabtu, 26 Juni 2010

LEGENDA SUNDEL BOLONG



Legenda Sundel Bolong Official Trailer

PROLOG: Ulasan ini saya buat pada tahun 2007 menjelang lebaran. Baru saja ketemu dan langsung saya upload sebelum keburu hilang. Mohon maaf kalau bahasa-nya masih belon nyekolah. Maklumlah..saat itu saya masih belum bisa bahasa Indonesia (bisanya bahasa Swahili). Anyway, enjoy.  
Sedikit intermezo: Saya yakin seyakin-yakinnya, buat orang yang otaknya waras, pasti langsung malingin muka ato minimal istigfar waktu ngeliat poster film berjudul "Legenda Sundel Bolong". Bukan lantaran takut atopun ngeri, tapi lebih kepada "Ya Oloh Gusti..ternyata industri film kita sudah kena kiamat sugro.." Gua termasuk orang yang menyayangkan "parade horor" di waktu Lebaran ini. Gimana enggak, hari raya yang mestinya dipenuhi tontonan yang membangkitkan silahturahmi dan persodaraan malah dipadati dengan tontonan yang memicu silahturahmi (dengan golok) dan persodaraan (dengan setan). Di Lebaran kali ini kita dijejelin Kuntilanak, Pocong, Jelangkung 3 dan sekarang...Sundel Bolong. Dan gua belon menghitung jurik dan demit lainnya yang udah ngantri pengen maen pelem bulan depan. Heran gua. Perasaan di negara barat sana, kalo lagi libur Christmas, film-filmnya didomonasi sama film keluarga. Home Alone lah, Santa Claus lah, Narnia lah... Pokoknya film-film untuk keluarga yang bisa bikin penonton mendapat pencerahan setelah keluar bioskop. Beda dengan libur Lebaran di Indonesia yang film-filmnya bisa ngebuat satu keluarga kesurupan semua sepulang dari bioskop. Balik lagi ke Legenda Sundel Bolong, ini adalah film horor kedua dari Hanung Bramantyo, setelah pernah membuat film horor Lentera Merah, yang sama seremnya sama bangke tokek. Jangan dulu protes sama judulnya yang ndeso banget atopun sama posternya yang mirip film-film kelas Buaran. Judulnya menurut gua sudah cukup representatif, walaupun memang kurang elegan (alah, judul2 film horor barat kayak "Vampires" sama "Ginger Snaps" kalo di-Indonesiain artinya kan "Kalong" dan "Jahe Gila". Kampung juga kan?). Justru menurut gua, judul "Sundel Bolong" udah bisa langsung menyentuh rasa ke-Indonesiaan kita. Buat orang yang lahir dan besar di Indonesia, walopun orang gedongan sekalipun, pasti udah pernah mendengar tentang setan awewe berpunggung seksi tersebut. Jadinya pasti udah langsung familiar. Nah, sekarang pertanyaannya, apakah isi filmnya udah cukup me-representasikan sosok setan yang kita kenal sejak masih nyusu emak??
Jawabannya adalah
IYA.
BANGET
SUMPAH.

Jangan salah, gua sangat mengagumi film Sundel Bolong versi Suzzana. Pas nonton film Malem Satu Suro di TV, gua sampe mules-mules saking takutnya. Kelar nonton, gua langsung parno se-parno parno nya, kayak ada orang yang mengintai pengen ngebunuh gua. Iya. Setakut itu. Tapi pas udah rada gedean (baca: mahasiswa) dan gua nonton film itu lagi, yang ada gua malah ngikik-ngikik kayak kuntilanak. Terutama pada adegan di mana Suketi (Yang Mulia Ratu Setan Suzzana) berubah jadi Sundel Bolong gara-gara pakunya dicabut, trus anaknya yang bernama Rio (yang scarily, identik sama nama gua) pulang sekolah dan ngeliat kondisi ibunya. Si Rio, sebagaimana anak-anak waras dan cerdas lainnya, langsung menelepon bapaknya dan terjadilah percakapan yang harusnya masuk ke dalam "Movies' Greatest Dialogue":
Kring..kriiiinggg...
Bapak: Halo? Rio??
Rio: Papaa...Papah cepat pulang Paaa...
Bapak: Hah? Ada apa Rio??
Rio: Mama, Pa... Mama... Mama jadi setaan..
Bapak: HAH?
Rio: Betul Pa. Mama...Mama jadi setaaan
Bapak: Ah, coba..coba.. Papa mau bicara sama Bibi.
Sang babysitter yang disinyalir lebih waras pun akhirnya mengambil telepon. Tapi ternyata dialognya sama aja.
Bibi: Pak? Betul Pak. Ibu jadi setan...
Bapak: Aih, cape dueeeh Coba sini, saya mau bicara sama ibu
Bibi memberikan telepon pada ibu.
Bapak: Halo Mama?
Ibu: Betul Paa... Saya jadi setaan..
 (yang ini becanda).

Tapi aside from the high cheesse factor, gua tetep mengingat Malem Satu Suro (dan film-film Suzzana lainnya) sebagai film laknat yang sempat ngebuat gua dehidrasi sehabis nonton. Dan guess what? Gua mendapatkan hal yang serupa setelah nonton Legenda Sundel Bolong buatan Hanung. Dari mulai pemilihan setting yang tahun 1965, di pedesaan Jawa Barat, gua udah langsung punya feel yang bagus akan film ini. Feel nya kena banget. Indonesia banget. Ndeso banget. Persis kayak film-film horor lokal jaman dulu.

Ceritanya tentang Imah (Jian Batari) penari ronggeng asal Banjar dan Sarpah (Baim) seorang pemetik teh yang menjalin kasih dan menikah, hingga akhirnya memutuskan untuk bekerja pada tuan tanah bernama Danapati (Tio Pakusadewo). Yang tidak diketahui Sarpa adalah, ternyata Danapati si tuan tanah ini adalah seorang womanizer alias demen cewek (kalo demen betere namanya energizer.. haha. Garing, I know). Jadi dengan akal bulusnya, dikirimlah Sarpa ke Sumatra disuruh buat ngambil bibit teh di sana. Sementara si Sarap--eh Sarpa pergi, Danapati si womanizer itu malah menodai kemurnian Imah, dipake dan disiksa sampe bengkak bengkak. Gak lama kemudian, di desa yang tadinya adem ayem itu, tiba-tiba aja muncul teror dari sosok wanita misterius penari ronggeng yang dikenal sebagai...SARAS 008. Ya enggaklah. Sundel Bolong.

Yang bikin gua salut dengan film ini adalah kemauan sutradara dan kru nya dalam bekerja pol polan dan gak nyari shotcut alias jalan gampang. Skenarionya bisa aja di set kayak horor generik kebanyakan yaitu bersetting di jakarta, dan diisi oleh karakter-karakter modern (mostly anak-anak muda cakep tapi rada-rada bloon) yang ceritanya adalah: terjebak di rumah tua, hotel, atau apalah, dan akhirnya ketemu sama Sundel Bolong. Jadilah film Legenda Sundel Bolong. Tapi ternyata Hanung memilih cara yang perlu lebih banyak usaha dan keringet. Ceritanya dibikin di tahun 1965 (PKI?). Settingnya dibikin di Jawa Barat dengan lanskap kebun teh dan kampung. Alhasil, casing filmnya jadi beda banget sama film horor kebanyakan. "Rasa horor" nya bisa langsung masuk tanpa mesti kebanyakan ngomong dan explanation. Emang dari sononya alam kita emang keliatan (dan terasa) mistis bukan? Nama Sundel Bolong yang ndeso banget itu pun tidak lagi menjadi nama yang "norak" di alam filmnya, tapi kembali menjadi suatu makhluk yang "deket", "ada" dan "bikin ngeri".

Filmnya sendiri bukan tanpa kelemahan. Sama kayak film horor lain (film Hollywood juga), film ini punya banyak koleksi "adegan pelecehan logika" dan storyline yang "Tiba-tiba-Kok-Selese-Terus-Gimana-Dong-Akhirnya" dan juga adegan "pembunuhan" oleh hantu yang tetep aja cupu (kamera bergerak ke muka orang yang lagi jerit-jerit, lalu blackout. Semua film horor lokal doyan banget pake yang begituan. Hemat efek dan hemat waktu kali ye). Tapi bagi gua, saat nonton film ini, semua itu gak jadi masalah. Gua terlanjur terhipnotis dengan gambar-gambar yang disajikan. Gua gak protes juga pada gaya dialog tokoh-tokohnya yang kadang-kadang "Nyunda Pisan" kadang-kadang "EYD". Gua merasa Hanung telah berhasil membangun sebuah alam, dimana semuanya mungkin dan sah-sah aja terjadi. 
      
Kesimpulannya, Legenda Sundel Bolong adalah sebuah tontonan horor lokal yang berhasil. Berhasil bikin nutup kuping, berhasil bikin nganga dan berhasil bikin gua ngerasa uneasy setelah keluar dari bioskop yang gelap. Tahun ini, Legenda Sundel Bolong adalah THE horror movie to watch. Along with Kuntilanak 2 karya Rizal Mantovani (tentu saja dengan kadar cheesse yang lebih banyak daripada martabak manis spesial, tapi I couldn't help it. Kuntilanak 2 is also fun to watch). Tapi gua tetap menempatkan Sundel Bolong di posisi juara.

Akhirnya Malem Satu Suro punya tandingan.

EMAK INGIN NAIK HAJI


Emak Ingin Naik Haji Official Trailer

Peribahasa ‘Mencari jarum di tumpukan jerami’ seringkali diartikan sebagai kegiatan yang amat sulit dikerjakan (atau kalau diterjemahkan ke dalam bahasa gaulnya Tom Cruise, istilahnya Mission Impossible). Tapi terkadang, pencarian yang susah payah dapat juga berbuah hasil. Okelah, selama merogoh rogoh tumpukan jerami anda kemungkinan hanya bisa menemukan bekicot, uler sawah, sampai kotoran kebo. Tapi bukan tidak mungkin anda bisa menemukan: bekicot emas, uler sawah emas, dan kotoran kebo emas (Udah nggak usah protes. Saya yakin kalo beneran pada nemu, pasti langsung jumpalitan. Digigit uler).
 
Inilah yang saya rasakan saat saya kembali menemukan film-film yang dulu saya lewatkan. Beberapa memang pantas dilewatkan atau memang harusnya dilewatkan (e.g. Transformers 2, Remember Me (filmnya Robert Pattinson), sampai Mati Suri:Mati tak Cukup Sekali (mati kok minta nambah). Tapi beberapa film lainnya seperti Merantau, Cin(t)a, dan Pasir Berbisik saya rasa sangat patut disaksikan bersama-sama di bioskop.
Dan bagi saya, film Emak Ingin Naik Haji ini akan sangat lebih baik kalau saya tonton sendirian di rumah. Karena kalau saya nonton di bioskop, muka saya pasti bakal terlihat seperti habis digerojokin bawang merah sekilo. Rasanya mata ini cacingan, pengen kedip-kedip mulu.
 
Fokus lagi ke Emak Ingin Naik Haji. Film ini memang sudah lama saya incar, bahkan saat masih diputar di bioskop. Sayang, saat ada kesempatan nonton, filmnya mendadak saja hilang seperti disulap. Jadilah, begitu DVD nya keluar saya langsung beli dan menonton di komputer. Sembilan puluh menit kemudian, rasanya saya terserang bengek stadium 1.
 
Cerita Emak Ingin Naik Haji ini berpusat pada seorang wanita lanjut berusia 61 tahun yang biasa dipanggil Emak (diperankan oleh Ibu Aty Kanser) yang bermimpi suatu hari nanti bisa berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji. Mimpi wanita tua ini cukup berat untuk direalisasikan mengingat biaya naik Haji yang tidak murah dan keadaan ekonominya yang dibawah rata-rata. Emak dibuat semakin mendamba saat dilihatnya keluarga pengusaha/ustad nan elit yang tinggal tak jauh dari rumahnya berkali kali Umroh dan naik Haji. Adalah sang putra bernama Zein (diperankan oleh Reza Rahadian) yang berusaha dengan segala cara untuk mewujudkan impian Emak berangkat ke Mekkah, dengan segala keterbatasan yang ada. Walaupun itu baru sebatas menjual lukisan untuk membantu Emak menabung dan menghadiahkan gambar Ka’bah untuk dipandangi Emak-nya setiap waktu. Sang Emak tampaknya begitu senang sampai-sampai ia berucap:
 
“Raga Emak mungkin nggak mampu buat melewati samudra yang luas begitu untuk pergi ke Tanah Suci. Tapi Emak yakin, Tuhan pasti tahu. Hati Emak udah lama ada di situ..”
Film ini, berdasarkan credit title-nya diangkat dari sebuah cerita pendek. Hal ini memang terlihat dari cerita intinya yang sungguh sederhana, dan fokus yang sebagian besar dikhususkan pada satu sampai dua tokoh utama. Memang ada beberapa tokoh lain dan sub-plot (cerita sampingan) yang turut bergulir mengisi durasi, tapi tidak mengalihkan penonton dari isu utama cerita: mimpi Emak untuk naik haji.
 
Kesederhanaan film ini memberikan ruang yang luas kepada para pemain utamanya untuk membangun hubungan yang sangat ber-kimia (alias ber-chemistry) sepanjang film. Tokoh Emak dan putranya Zein, tampak benar-benar mempraktekan jurus 3M (Bukan. Bukan Malu Malu Meong), tapi menyayangi, menghargai dan menghormati. Salut kepada Ibu Aty Kanser yang memerankan tokoh Emak tanpa harus terkena sindrom Bengis (Bentar Bentar Nangis). Tokoh Emak, walaupun dikisahkan sangat mendamba melihat Ka’bah, tampak sedikit cuek, lugas dan tegar. Hal inilah yang membuat penonton (baca: gua) langsung kelilipan saat melihat tokoh Emak akhirnya diam-diam menitikkan air mata. Menyaksikan orang tegar menangis selalu membawa emotional impact yang lebih kuat ketimbang melihat orang—yang memang dari sononya cengeng—sesenggukan.
Salut saya juga saya hantarkan pada Reza Rahadian, pemeran Zein di film ini. Sudah tiga film yang dia bintangi (termasuk film ini) yang saya tonton. Dua diantaranya adalah Hari untuk Amanda dan Alangkah Lucunya Negeri Ini. Semua filmnya bagus (khusus untuk Alangkah Lucunya Negeri Ini, saya sematkan predikat Susu Anget (Suwer Sumpe Awesome Banget). Penampilan dia pun selalu terlihat luar biasa natural. Menonton Reza di sini membuat saya merasa memiliki kemampuan telepati. Semua emosi terbaca dari mukanya. Bahkan saat tokoh Zein ini cuma duduk di atas kursi, tanpa bicara apa-apa. Film ini membuat saya percaya bahwa orang yang bernama Reza Rahadian ini adalah salah satu pelakon muda terbaik di Indonesia saat ini.

Senang asanya melihat sebuah film Indonesia bermuatan religi yang benar-benar mengangkat topik yang substantial dan relevan dengan agama yang dimaksud. Saat film bermuatan religi lainnya mmemilih untuk bercerita tentang konflik rebut-rebutan cowok dan poligami dengan setting otentik nan mahal di Mesir, film Emak Ingin Naik Haji memilih untuk bercerita tentang hubungan umat dengan Penciptanya, hubungan anak dengan Emak-nya.
 
Film ini sedikit banyak mengingatkan saya pada film keluaran tahun 2004 berjudul Le Grand Voyage, sebuah film Perancis yang mengisahkan tentang seorang pemuda yang harus rela mengendarai mobil sejauh ribuan kilometer untuk mengantarkan sang ayah naik Haji ke Mekkah. Film Perancis ini juga mayoritas diisi dengan dialog dan interaksi yang intim antara orangtua dan anak. Membuat penonton (baca: gua) begitu peduli dengan apapun yang dilakukan tokoh-tokohnya. Sesuatu yang sulit saya rasakan saat saya menonton pelakon Indonesia didandani bak orang arab dan mondar mandir di depan gurun dan piramid dengan tujuan pamer lokasi.
 
Singkat kata, menurut saya, film Emak Ingin Naik Haji ini memang bagaikan jarum emas di antara tumpukan jerami. Kehadirannya begitu tidak mencolok sehingga begitu mudah terlewat. Namun begitu anda menemukannya, anda akan bertanya-tanya kenapa harta karun ini bisa sampai luput dari perhatian anda (saya mungkin bicara seperti ini karena saya muslim, tapi jujur, menurut saya film ini memang patut ditonton. Apapun kitab yang anda baca).