Sabtu, 06 November 2010

The Children


The Children Official Trailer

Semua yang demen nonton film pasti sadar bahwa ada beberapa hal yang dengan sengaja, sangat jarang atau bahkan tidak pernah ditunjukkan di dalam sebuah film. Mungkin karena, kalau hal tersebut ditunjukkan, bisa membuat film yang bersangkutan kehilangan greget, dicap konyol atau bahkan dianggap amoral. Contoh, tidak pernah ada kejadian seorang pendekar atau tentara salah tusuk atau salah tembak temennya sendiri dalam adegan peperangan yang serba cepat. Tidak pernah ada yang menunjukkan bagaimana Supermen mengancingkan kemejanya kembali (yang pasti udah jebol karena dirobek paksa) ketika ingin kembali jadi Clark setelah menyelamatkan dunia dari serangan misil-nya Lex Luthor. Tidak pernah ada adegan memperlihatkan Tarzan dan pasukan Sparta melakukan MCK. Tidak pernah juga ada adegan pembunuh berantai menelepon ke rumah korban tapi diangkat oleh anak TK atau pembantu (kecuali pembantunya remaja, cantik dan jago jerit-jerit). DAN, tidak pernah ada film mainstream yang secara eksplisit menunjukkan orang dewasa melukai anak-anak usia playgroup. “Prinsip Sopan Santun Film” yang terakhir saya sebut ini, akhirnya ditumbangkan oleh sebuah film inggris berjudul The Children.
 
The Children memiliki plot yang sekilas serupa dengan film tentang bocah-bocah uedhyan yang demen bikin setres orangtuanya (contoh The Omen, Children of the Corn, Village of the Damned, Orphan, sampai Dora the Exporer— lagian kerjaannya kelayapan ke hutan mulu sih. Gimana orangtuanya gak deg-degan coba). Namun sutradaranya membuat film ini berjalan dua kali lebih jauh, melompati pakem yang bahkan haram hukumnya untuk dilewati film-film horor kelas ekstrim sekalipun.

Film ini dimulai dengan berkumpulnya dua keluarga di sebuah rumah/vila di tengah hutan bersalju untuk merayakan tahun baru bersama. Masing-masing keluarga terdiri dari suami istri dengan anak-anak mereka yang kebanyakan usia playgroup sampai SD. Anak yang paling besar adalah seorang remaja putri bergaya emo sudah memasuki usia SMU. Sang remaja putri, sebagaimana anak-anak gaoel seusianya, tidak menyukai acara kumpul-kumpul keluarga seperti ini. Si putri lebih suka pergi partay dengan teman-temannya daripada bercengkerama dengan sepupu-sepupu hiperaktif yang tampaknya terlalu banyak menegak Kratingdaeng. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur dan Cinta Fitri season 6 sudah semakin ngawur. Sang remaja tidak punya pilihan lain selain menggerutu dan sms an dengan temannya, berharap bisa dijemput keesokan harinya. Sayang, impiannya untuk bisa gila-gilaan di pesta terpaksa kelelep di Kali Sunter karena ternyata apa yang terjadi di dalam villa bersalju itu benar-benar jauh lebih sarap daripada konser trio maut Julia Perez, Aura Kasih dan Bang Haji Rhoma sekalipun.

Kegilaan itu, sebagaimana sudah disinyalkan dari judul filmnya, bermula dari anak-anak Teri Asin (Terlalu Imut dan Asli ngegemeSin) yang tiba-tiba saja berubah menjadi lebih liar daripada banteng rodeo. Dalam hitungan jam setelah berkumpul di villa tersebut, satu per satu anak-anak mulai membuat kacau suasana dengan menjerit-jerit, menangis, dan meronta-ronta. Para orangtua, sebagaimana umumnya orang tua, menganggap bahwa buah hati mereka hanya bersikap seperti layaknya anak-anak (yaitu..well.. senang menjerit, menangis dan meronta). Namun kemudian anak-anak tersebut mulai menyakiti. Kemudian melukai. Dan kemudian membunuh.

Sampai di sini, anda pasti sudah tahu hal-hal tabu macam apa yang ditunjukkan dalam The Children. Adegan anak-anak menyakiti orang dewasa mungkin sudah sering anda lihat di berbagai film horor (seperti the Omen, the Exorcist, Orphan, Power Puff Girls sampai Bayi Ajaib) tapi kemungkinan anda belum pernah melihat apa yang terjadi jika para orangtua membalas perbuatan anak-anak mereka sendiri dalam keadaan terdesak. Pertanyaan mengerikan inilah yang dilempar oleh Tom Shankland, sutradara film The Children, kepada penonton: Apakah anda tega menyakiti buah hati anda sendiri jika mereka dengan sengaja membahayakan nyawa anda?

Di dalam film ini, pertanyaan di atas dijawab dengan memperlihatkan berbagai adegan, salah satunya adegan dimana seorang ibu, yang benar-benar dalam keadaan terluka dan terpojok, tidak mampu (atau tidak mau) membela dirinya saat sekumpulan anak berjalan mendekat sambil menghunuskan pisau. Atau betapa para orangtua merasa dirinya bagai monster ketika mereka benar-benar menyakiti anak-anak mereka. Film The Children ini berulangkali membuat saya meremas mulut saya, mencegahnya supaya tidak jatuh menganga, bukan karena digarap secara eksploitatif, murahan dan hanya mengejar shock value (as if the director is saying: “Look i’m cutting edge artist, I break boundaries!”). Sebaliknya, film ini digarap dengan skillful, dan penuh gaya (ada beberapa shot-shot keren yang membuat penonton merasa melihat adegan luar biasa sadis, yang ternyata—jika ditonton ulang—adegan luar biasa sadis itu tidak pernah diperlihatkan). Hal ini yang juga dijadikan senjata oleh Tom Shankland, sang sutradara. Dia tahu betapa tidak nyamannya penonton jika ada anak-anak kecil dimasukkan ke dalam film horor. Dia tahu bahwa kita (penonton) punya batas toleransi yang minim terhadap adegan kekerasan terhadap anak-anak. Dan, di dalam film ini, ketika tiba saatnya para orangtua untuk membela diri, penonton (atau setidaknya saya) sudah dibuat begitu miris dengan apa yang akan terjadi. It’s like we knew this moment will come. We just didn’t think the director would dare to put it on screen. And then he does.

Ada beberapa sentuhan kecil yang turut menaikkan tensi film The Children. Tokoh anak-anak yang secara mendadak berubah anarkis di film ini diceritakan tetap merupakan anak-anak. Ini berarti mereka sebenarnya memiliki kekuatan setara anak-anak normal lainnya. Mereka bukan personifikasi setan, iblis ataupun babi ngepet—yang seringkali dipergunakan sebagai justifikasi untuk memusnahkan mereka di film-film lain—melainkan “hanya” sekumpulan anak-anak biasa yang tampaknya terserang suatu penyakit yang membuat mereka menggila (film ini tidak pernah menjelaskan mengenai apa yang sebenarnya yang menyerang anak-anak tersebut, yang menurut saya malah menaikkan aura “What the F*ck is Going on” yang menyelimuti film ini).

Akhir kata, saya angkat topi untuk sang sutradara, bukan karena saya menyukai topik atau isu yang dia angkat, tapi karena, sebagai penggemar film bergenre seperti ini, saya senang melihat sineas yang berani menggodok ide baru yang—terus terang, agak gila—seperti ini dan menggarapnya dengan baik dan enak dinikmati (untuk penggemar horor). Saya akan mencatat nama Tom Shankland dalam daftar must watch director di kepala saya dan menunggu film apalagi yang akan dihasilkannya setelah ini. Seorang sutradara Indonesia (yang bisa anda follow twitter-nya) mengatakan kurang lebih seperti ini (very loose quote): “Sebuah premis yang menarik adalah premis yang menggambarkan tokoh-tokoh utamanya, keadaan apa yang menimpa mereka, dan bagaimana sulitnya mereka terbebas dari keadaan tersebut, semuanya terangkum dalam satu kalimat. Kalau prinsip ini diterapkan pada film The Children, menurut saya film ini memiliki premis film horor yang dahsyat.
 

Sabtu, 26 Juni 2010

LEGENDA SUNDEL BOLONG



Legenda Sundel Bolong Official Trailer

PROLOG: Ulasan ini saya buat pada tahun 2007 menjelang lebaran. Baru saja ketemu dan langsung saya upload sebelum keburu hilang. Mohon maaf kalau bahasa-nya masih belon nyekolah. Maklumlah..saat itu saya masih belum bisa bahasa Indonesia (bisanya bahasa Swahili). Anyway, enjoy.  
Sedikit intermezo: Saya yakin seyakin-yakinnya, buat orang yang otaknya waras, pasti langsung malingin muka ato minimal istigfar waktu ngeliat poster film berjudul "Legenda Sundel Bolong". Bukan lantaran takut atopun ngeri, tapi lebih kepada "Ya Oloh Gusti..ternyata industri film kita sudah kena kiamat sugro.." Gua termasuk orang yang menyayangkan "parade horor" di waktu Lebaran ini. Gimana enggak, hari raya yang mestinya dipenuhi tontonan yang membangkitkan silahturahmi dan persodaraan malah dipadati dengan tontonan yang memicu silahturahmi (dengan golok) dan persodaraan (dengan setan). Di Lebaran kali ini kita dijejelin Kuntilanak, Pocong, Jelangkung 3 dan sekarang...Sundel Bolong. Dan gua belon menghitung jurik dan demit lainnya yang udah ngantri pengen maen pelem bulan depan. Heran gua. Perasaan di negara barat sana, kalo lagi libur Christmas, film-filmnya didomonasi sama film keluarga. Home Alone lah, Santa Claus lah, Narnia lah... Pokoknya film-film untuk keluarga yang bisa bikin penonton mendapat pencerahan setelah keluar bioskop. Beda dengan libur Lebaran di Indonesia yang film-filmnya bisa ngebuat satu keluarga kesurupan semua sepulang dari bioskop. Balik lagi ke Legenda Sundel Bolong, ini adalah film horor kedua dari Hanung Bramantyo, setelah pernah membuat film horor Lentera Merah, yang sama seremnya sama bangke tokek. Jangan dulu protes sama judulnya yang ndeso banget atopun sama posternya yang mirip film-film kelas Buaran. Judulnya menurut gua sudah cukup representatif, walaupun memang kurang elegan (alah, judul2 film horor barat kayak "Vampires" sama "Ginger Snaps" kalo di-Indonesiain artinya kan "Kalong" dan "Jahe Gila". Kampung juga kan?). Justru menurut gua, judul "Sundel Bolong" udah bisa langsung menyentuh rasa ke-Indonesiaan kita. Buat orang yang lahir dan besar di Indonesia, walopun orang gedongan sekalipun, pasti udah pernah mendengar tentang setan awewe berpunggung seksi tersebut. Jadinya pasti udah langsung familiar. Nah, sekarang pertanyaannya, apakah isi filmnya udah cukup me-representasikan sosok setan yang kita kenal sejak masih nyusu emak??
Jawabannya adalah
IYA.
BANGET
SUMPAH.

Jangan salah, gua sangat mengagumi film Sundel Bolong versi Suzzana. Pas nonton film Malem Satu Suro di TV, gua sampe mules-mules saking takutnya. Kelar nonton, gua langsung parno se-parno parno nya, kayak ada orang yang mengintai pengen ngebunuh gua. Iya. Setakut itu. Tapi pas udah rada gedean (baca: mahasiswa) dan gua nonton film itu lagi, yang ada gua malah ngikik-ngikik kayak kuntilanak. Terutama pada adegan di mana Suketi (Yang Mulia Ratu Setan Suzzana) berubah jadi Sundel Bolong gara-gara pakunya dicabut, trus anaknya yang bernama Rio (yang scarily, identik sama nama gua) pulang sekolah dan ngeliat kondisi ibunya. Si Rio, sebagaimana anak-anak waras dan cerdas lainnya, langsung menelepon bapaknya dan terjadilah percakapan yang harusnya masuk ke dalam "Movies' Greatest Dialogue":
Kring..kriiiinggg...
Bapak: Halo? Rio??
Rio: Papaa...Papah cepat pulang Paaa...
Bapak: Hah? Ada apa Rio??
Rio: Mama, Pa... Mama... Mama jadi setaan..
Bapak: HAH?
Rio: Betul Pa. Mama...Mama jadi setaaan
Bapak: Ah, coba..coba.. Papa mau bicara sama Bibi.
Sang babysitter yang disinyalir lebih waras pun akhirnya mengambil telepon. Tapi ternyata dialognya sama aja.
Bibi: Pak? Betul Pak. Ibu jadi setan...
Bapak: Aih, cape dueeeh Coba sini, saya mau bicara sama ibu
Bibi memberikan telepon pada ibu.
Bapak: Halo Mama?
Ibu: Betul Paa... Saya jadi setaan..
 (yang ini becanda).

Tapi aside from the high cheesse factor, gua tetep mengingat Malem Satu Suro (dan film-film Suzzana lainnya) sebagai film laknat yang sempat ngebuat gua dehidrasi sehabis nonton. Dan guess what? Gua mendapatkan hal yang serupa setelah nonton Legenda Sundel Bolong buatan Hanung. Dari mulai pemilihan setting yang tahun 1965, di pedesaan Jawa Barat, gua udah langsung punya feel yang bagus akan film ini. Feel nya kena banget. Indonesia banget. Ndeso banget. Persis kayak film-film horor lokal jaman dulu.

Ceritanya tentang Imah (Jian Batari) penari ronggeng asal Banjar dan Sarpah (Baim) seorang pemetik teh yang menjalin kasih dan menikah, hingga akhirnya memutuskan untuk bekerja pada tuan tanah bernama Danapati (Tio Pakusadewo). Yang tidak diketahui Sarpa adalah, ternyata Danapati si tuan tanah ini adalah seorang womanizer alias demen cewek (kalo demen betere namanya energizer.. haha. Garing, I know). Jadi dengan akal bulusnya, dikirimlah Sarpa ke Sumatra disuruh buat ngambil bibit teh di sana. Sementara si Sarap--eh Sarpa pergi, Danapati si womanizer itu malah menodai kemurnian Imah, dipake dan disiksa sampe bengkak bengkak. Gak lama kemudian, di desa yang tadinya adem ayem itu, tiba-tiba aja muncul teror dari sosok wanita misterius penari ronggeng yang dikenal sebagai...SARAS 008. Ya enggaklah. Sundel Bolong.

Yang bikin gua salut dengan film ini adalah kemauan sutradara dan kru nya dalam bekerja pol polan dan gak nyari shotcut alias jalan gampang. Skenarionya bisa aja di set kayak horor generik kebanyakan yaitu bersetting di jakarta, dan diisi oleh karakter-karakter modern (mostly anak-anak muda cakep tapi rada-rada bloon) yang ceritanya adalah: terjebak di rumah tua, hotel, atau apalah, dan akhirnya ketemu sama Sundel Bolong. Jadilah film Legenda Sundel Bolong. Tapi ternyata Hanung memilih cara yang perlu lebih banyak usaha dan keringet. Ceritanya dibikin di tahun 1965 (PKI?). Settingnya dibikin di Jawa Barat dengan lanskap kebun teh dan kampung. Alhasil, casing filmnya jadi beda banget sama film horor kebanyakan. "Rasa horor" nya bisa langsung masuk tanpa mesti kebanyakan ngomong dan explanation. Emang dari sononya alam kita emang keliatan (dan terasa) mistis bukan? Nama Sundel Bolong yang ndeso banget itu pun tidak lagi menjadi nama yang "norak" di alam filmnya, tapi kembali menjadi suatu makhluk yang "deket", "ada" dan "bikin ngeri".

Filmnya sendiri bukan tanpa kelemahan. Sama kayak film horor lain (film Hollywood juga), film ini punya banyak koleksi "adegan pelecehan logika" dan storyline yang "Tiba-tiba-Kok-Selese-Terus-Gimana-Dong-Akhirnya" dan juga adegan "pembunuhan" oleh hantu yang tetep aja cupu (kamera bergerak ke muka orang yang lagi jerit-jerit, lalu blackout. Semua film horor lokal doyan banget pake yang begituan. Hemat efek dan hemat waktu kali ye). Tapi bagi gua, saat nonton film ini, semua itu gak jadi masalah. Gua terlanjur terhipnotis dengan gambar-gambar yang disajikan. Gua gak protes juga pada gaya dialog tokoh-tokohnya yang kadang-kadang "Nyunda Pisan" kadang-kadang "EYD". Gua merasa Hanung telah berhasil membangun sebuah alam, dimana semuanya mungkin dan sah-sah aja terjadi. 
      
Kesimpulannya, Legenda Sundel Bolong adalah sebuah tontonan horor lokal yang berhasil. Berhasil bikin nutup kuping, berhasil bikin nganga dan berhasil bikin gua ngerasa uneasy setelah keluar dari bioskop yang gelap. Tahun ini, Legenda Sundel Bolong adalah THE horror movie to watch. Along with Kuntilanak 2 karya Rizal Mantovani (tentu saja dengan kadar cheesse yang lebih banyak daripada martabak manis spesial, tapi I couldn't help it. Kuntilanak 2 is also fun to watch). Tapi gua tetap menempatkan Sundel Bolong di posisi juara.

Akhirnya Malem Satu Suro punya tandingan.

EMAK INGIN NAIK HAJI


Emak Ingin Naik Haji Official Trailer

Peribahasa ‘Mencari jarum di tumpukan jerami’ seringkali diartikan sebagai kegiatan yang amat sulit dikerjakan (atau kalau diterjemahkan ke dalam bahasa gaulnya Tom Cruise, istilahnya Mission Impossible). Tapi terkadang, pencarian yang susah payah dapat juga berbuah hasil. Okelah, selama merogoh rogoh tumpukan jerami anda kemungkinan hanya bisa menemukan bekicot, uler sawah, sampai kotoran kebo. Tapi bukan tidak mungkin anda bisa menemukan: bekicot emas, uler sawah emas, dan kotoran kebo emas (Udah nggak usah protes. Saya yakin kalo beneran pada nemu, pasti langsung jumpalitan. Digigit uler).
 
Inilah yang saya rasakan saat saya kembali menemukan film-film yang dulu saya lewatkan. Beberapa memang pantas dilewatkan atau memang harusnya dilewatkan (e.g. Transformers 2, Remember Me (filmnya Robert Pattinson), sampai Mati Suri:Mati tak Cukup Sekali (mati kok minta nambah). Tapi beberapa film lainnya seperti Merantau, Cin(t)a, dan Pasir Berbisik saya rasa sangat patut disaksikan bersama-sama di bioskop.
Dan bagi saya, film Emak Ingin Naik Haji ini akan sangat lebih baik kalau saya tonton sendirian di rumah. Karena kalau saya nonton di bioskop, muka saya pasti bakal terlihat seperti habis digerojokin bawang merah sekilo. Rasanya mata ini cacingan, pengen kedip-kedip mulu.
 
Fokus lagi ke Emak Ingin Naik Haji. Film ini memang sudah lama saya incar, bahkan saat masih diputar di bioskop. Sayang, saat ada kesempatan nonton, filmnya mendadak saja hilang seperti disulap. Jadilah, begitu DVD nya keluar saya langsung beli dan menonton di komputer. Sembilan puluh menit kemudian, rasanya saya terserang bengek stadium 1.
 
Cerita Emak Ingin Naik Haji ini berpusat pada seorang wanita lanjut berusia 61 tahun yang biasa dipanggil Emak (diperankan oleh Ibu Aty Kanser) yang bermimpi suatu hari nanti bisa berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji. Mimpi wanita tua ini cukup berat untuk direalisasikan mengingat biaya naik Haji yang tidak murah dan keadaan ekonominya yang dibawah rata-rata. Emak dibuat semakin mendamba saat dilihatnya keluarga pengusaha/ustad nan elit yang tinggal tak jauh dari rumahnya berkali kali Umroh dan naik Haji. Adalah sang putra bernama Zein (diperankan oleh Reza Rahadian) yang berusaha dengan segala cara untuk mewujudkan impian Emak berangkat ke Mekkah, dengan segala keterbatasan yang ada. Walaupun itu baru sebatas menjual lukisan untuk membantu Emak menabung dan menghadiahkan gambar Ka’bah untuk dipandangi Emak-nya setiap waktu. Sang Emak tampaknya begitu senang sampai-sampai ia berucap:
 
“Raga Emak mungkin nggak mampu buat melewati samudra yang luas begitu untuk pergi ke Tanah Suci. Tapi Emak yakin, Tuhan pasti tahu. Hati Emak udah lama ada di situ..”
Film ini, berdasarkan credit title-nya diangkat dari sebuah cerita pendek. Hal ini memang terlihat dari cerita intinya yang sungguh sederhana, dan fokus yang sebagian besar dikhususkan pada satu sampai dua tokoh utama. Memang ada beberapa tokoh lain dan sub-plot (cerita sampingan) yang turut bergulir mengisi durasi, tapi tidak mengalihkan penonton dari isu utama cerita: mimpi Emak untuk naik haji.
 
Kesederhanaan film ini memberikan ruang yang luas kepada para pemain utamanya untuk membangun hubungan yang sangat ber-kimia (alias ber-chemistry) sepanjang film. Tokoh Emak dan putranya Zein, tampak benar-benar mempraktekan jurus 3M (Bukan. Bukan Malu Malu Meong), tapi menyayangi, menghargai dan menghormati. Salut kepada Ibu Aty Kanser yang memerankan tokoh Emak tanpa harus terkena sindrom Bengis (Bentar Bentar Nangis). Tokoh Emak, walaupun dikisahkan sangat mendamba melihat Ka’bah, tampak sedikit cuek, lugas dan tegar. Hal inilah yang membuat penonton (baca: gua) langsung kelilipan saat melihat tokoh Emak akhirnya diam-diam menitikkan air mata. Menyaksikan orang tegar menangis selalu membawa emotional impact yang lebih kuat ketimbang melihat orang—yang memang dari sononya cengeng—sesenggukan.
Salut saya juga saya hantarkan pada Reza Rahadian, pemeran Zein di film ini. Sudah tiga film yang dia bintangi (termasuk film ini) yang saya tonton. Dua diantaranya adalah Hari untuk Amanda dan Alangkah Lucunya Negeri Ini. Semua filmnya bagus (khusus untuk Alangkah Lucunya Negeri Ini, saya sematkan predikat Susu Anget (Suwer Sumpe Awesome Banget). Penampilan dia pun selalu terlihat luar biasa natural. Menonton Reza di sini membuat saya merasa memiliki kemampuan telepati. Semua emosi terbaca dari mukanya. Bahkan saat tokoh Zein ini cuma duduk di atas kursi, tanpa bicara apa-apa. Film ini membuat saya percaya bahwa orang yang bernama Reza Rahadian ini adalah salah satu pelakon muda terbaik di Indonesia saat ini.

Senang asanya melihat sebuah film Indonesia bermuatan religi yang benar-benar mengangkat topik yang substantial dan relevan dengan agama yang dimaksud. Saat film bermuatan religi lainnya mmemilih untuk bercerita tentang konflik rebut-rebutan cowok dan poligami dengan setting otentik nan mahal di Mesir, film Emak Ingin Naik Haji memilih untuk bercerita tentang hubungan umat dengan Penciptanya, hubungan anak dengan Emak-nya.
 
Film ini sedikit banyak mengingatkan saya pada film keluaran tahun 2004 berjudul Le Grand Voyage, sebuah film Perancis yang mengisahkan tentang seorang pemuda yang harus rela mengendarai mobil sejauh ribuan kilometer untuk mengantarkan sang ayah naik Haji ke Mekkah. Film Perancis ini juga mayoritas diisi dengan dialog dan interaksi yang intim antara orangtua dan anak. Membuat penonton (baca: gua) begitu peduli dengan apapun yang dilakukan tokoh-tokohnya. Sesuatu yang sulit saya rasakan saat saya menonton pelakon Indonesia didandani bak orang arab dan mondar mandir di depan gurun dan piramid dengan tujuan pamer lokasi.
 
Singkat kata, menurut saya, film Emak Ingin Naik Haji ini memang bagaikan jarum emas di antara tumpukan jerami. Kehadirannya begitu tidak mencolok sehingga begitu mudah terlewat. Namun begitu anda menemukannya, anda akan bertanya-tanya kenapa harta karun ini bisa sampai luput dari perhatian anda (saya mungkin bicara seperti ini karena saya muslim, tapi jujur, menurut saya film ini memang patut ditonton. Apapun kitab yang anda baca).

THE INNOCENTS

 
 
The Innocents Official Trailer

Curhat mode on: Saya tidak tahu dengan anda, tapi akhir-akhir ini saya merasa malas untuk menonton film-film baru. Saya belum ada ketertarikan untuk nonton film Bentrokan Pecahan Band Peterpan (Clash of the Titans), Yth. John (Dear John), Tulang Ca’em (Lovely Bones) atau bahkan film festival berjudul Kojang (Ko’id di Ranjang) itu. Saya merasa film-film sekarang—terutama film Hollywood, amat terlalu bersandar pada teknologi sehingga yang lainnya dinomor duakan, terutama untuk cerita, naskah, karakter, sampai akting. Singkatnya, saya ngeliat film-film belakangan ini seperti produk susu bubuk. Nggak usah susah-susah meres dan kejar-kejaran sama sapi. Tinggal tambah air panas, udek-udek dan voila! Jadilah minuman lima sempurna.

Inilah yang membuat gua mulai memburu film-film non Hollywood. Saya akui, bahwa saya dari dulu (dan mungkin sampai sekarang) masih terjangkit penyakit Hollywood Itis dimana film-film yang saya tonton nyaris semuanya keluaran pabrik film Oom Sam tersebut. Jadi bayangkan betapa terkaget-kagetnya waktu saya nonton 8 Women (film Prancis, part musical, part murder mistery), Ils (film horror Prancis yang di-plagiat habis-habisan dalam film-nya Liv Tyler, The Strangers) atau the Diving Bell and the Butterfly (film drama Prancis (btw kok Prancis mulu ya?) tentang orang yang lumpuh total, tapi sanggup nulis buku). Saya ngerasa bullet points mengenai sebuah tontonan yang udah terpatri di otak saya sejak pra aqil baliq, diacak-acak dengan sentosa. Tiba-tiba poin bertuliskan “cewek sekseh”, “ledakan setara seratus juta tabung elpiji” dan “makhluk-makhluk aneh bin astojim ciptaan Windows dan Mac” ilang semua kelelep di empang. Suddenly, a story, characters and craftsmanship took center stage. Lalu bagaimana dengan film berjudul The Innocents (1961), yang gua temukan tanpa sengaja saat sedang um..dengan tanpa sengaja mencari film-film bajakan di megaupload, hotfile, dan rapidshare.com?

Pertama-tama, saya ingin menginformasikan beberapa hal tentang film The Innocents ini. Menurut situs imdb, genre film ini adalah horror. Rilisnya sekitar tahun 1961. Enyahkan segala harapan untuk melihat tokoh cewek goblok berbikini yang jejeritan dikejar lelembut. Di sini tokoh utamanya pake gaun ketutup semua, sanggulan pula. Gambarnya aja masih gambar Oreo (alias item putih). Tapi tolong jangan keburu ilfil dengan fakta bahwa gambarnya item putih. Film-nya Mbah Alfred Hitchcock yang judulnya Psycho (1960) juga item putih. Tapi toh pengaruhnya masih kerasa sampe sekarang, di generasi para penikmat 3 Dimensi ini. Pertanyaannya adalah, apakah film zama pre-historik yang ngaku-ngaku sebagai film horror ini sanggup nakut-nakutin kita yang sudah kenyang digerojokin film-film macam Paranormal Activity, The Sixth Sense, The Others dan Rumah Pondok Indah?

Mari lihat dulu sinopsisnya. Seorang mbak-mbak cakep nan lugu bernama Miss Giddens (diperankan oleh aktris Deborah Kerr) mendapatkan tawaran untuk menjadi governess (semacam pengurus anak-anak, job desk-nya mencakup menjadi guru privat anak-anak di rumah) kepada sepasang anak-anak, keponakan dari seorang pria kaya raya yang tidak punya kepedulian secara mental dan emosional untuk mengurus keponakannya sendiri. Miss Giddens menerima pekerjaan tersebut. Mbak-mbak cantik nan lugu ini pun dibawa naik kreta kuda menuju sebuah kastil besar di daerah pedesaan yang diberi nama Bly House. Di dalam rumah tersebut dia berkenalan dengan Mrs. Grose, pelayan tua yang sudah sejak dulu setia mengurusi rumah dan menemani kedua bocah cilik tersebut. Bocah-bocah yang dimaksud di sini bernama Miles dan Flora. Pada saat kita pertama kali berkenalan dengan mereka, Miles dan Flora tampak seperti tipikal anak-anak di iklan Cerebrovit, Supradyn dan Inzana. Keduanya tampak begitu aktif, sehat, ceria dan bebas polio. Seperti syair lagunya Betharia Sonata, “Mulanya biasa sajaa..” Miss Giddens merasa dia akan menjalankan pekerjaannya sesuai dengan job desk yang diinformasikan padanya. Namun, seperti film horror pada umumnya, keadaan yang tadinya normal-normal saja berubah menjadi…well…paranormal.

Miss Giddens mulai melihat sosok pasangan pria dan wanita yang bertampang dingin, mondar-mandir di dalam dan di luar rumah. Baik di malam hari maupun tengah hari sat lohor. Dalam ketakutan, governess jelita tersebut berusaha mengorek-ngorek sejarah kastil yang ia tempati dari Mrs. Grose sang pelayan tua. Rahasia apa yang akhirnya diungkapkan oleh Mrs. Grose merupakan sebuah peristiwa skandal yang memberikan nilai ironis pada judul film ini sendiri.

Agak menarik memperhatikan para filmmaker men-definisikan hantu dalam film-film mereka. Film-film seperti The Ring dan The Grudge sepertinya mendefinisikan hantu sebagai awewe berambut gondrong yang eksis khusus untuk membalas dendam. Blair Witch Project dan Paranormal Activity di lain pihak, memandang hantu (dan/atau penyihir) sebagai calon bintang-bintang potensial di program reality show. Filmnya Guilermo Del Toro: The Devil’s Backbone dan M. Night Shyamalan dalam The Sixth Sense berpendapat bahwa hantu adalah sosok-sosok yang menyedihkan dan butuh pertolongan. Sedangkan The Shining (Stanley Kubrick) beropini bahwa hantu adalah manifestasi dari kebiasaan buruk anda sendiri (Oom Kubrick seems to think that alcohol can make you lose your mind and urge you to chop your cute kid and caring wife to pieces with an axe). Bagaimana dengan The Innocents?

Saya menangkap bahwa Jack Clayton—sutradara film ini—sepertinya tidak ada hubungan darah dengan Michael Clayton (filmnya George Clooney), berpendapat bahwa “hantu” adalah suatu “sejarah yang buruk”. Yaitu cerita tentang suatu peristiwa yang terjadi pada suatu masa, di suatu tempat, yang tidak kita alami atau saksikan sendiri, namun hanya sempat mendengar dari penuturan orang lain. Inilah yang terjadi pada Miss Giddens. Wanita lugu yang baru pertama kali mendapatkan pekerjaan—sebagaimana dia katakan di awal-awal film—itu harus langsung memikul tidak saja sebuah tanggungjawab besar untuk mengurusi anak-anak hiperaktif di sebuah kastil seluas lapangan bola, namun juga harus tabah mendengar sejarah “kotor” yang menodai tempat itu sebelum kedatangannya. Miss Giddens, seperti halnya kita ketika mendengar cerita tentang suatu peristiwa yang “diluar norma”, menjadi begitu involved, begitu terpengaruh hingga dirinya mulai melihat “sejarah” dan “kisah-kisah kelam” tersebut berubah menjadi nyata dan “berwujud” di depan matanya sendiri. “Sejarah” itu berubah menjadi hantu.

Saya harus akui, film ini membuat saya merinding. Dan itu dilakukan oleh sutradaranya tanpa segala macam trik yang sudah sering digunakan di film-film horror jaman sekarang (e.g. musik yang tiba-tiba keras seolah komposer-nya ngamuk, tokoh yang kaget dicolek seseorang—yang ternyata “Eeh.. cuma tikus”, kucuran darah manusia yang luber bak sirop Tjampolay atau kamera dikocok-kocok biar filmnya keliatan “real”). Saya menilai The Innocents sebagai semurni-murninya film horror. Kita menjadi takut bukan karena musiknya yang memerintahkan kita untuk takut. Kita menjadi ngeri bukan karena ada pisau, golok atau parutan yang dilempar ke depan mata kita (after all, they don’t have 3D in the 60’s. Mungkin kalo beneran dilemparin, kameramennya yang kena). Kita ketakutan karena memang beneran cerita dan suasananya creepy. Tanpa sadar, kita benar-benar seperti berada di posisinya Miss Giddens saat Mrs. Grose, sang pelayan tua, pertama kali menguak kisah di balik kastil tersebut. Kita beneran ngerasa uneasy ketika kedua bocah yang keliatannya um..innocent itu mulai mendendangkan lagu, puisi dan pertanyaan-pertanyaan yang jauh melampaui usia mereka. Membuat anda bertanya-tanya: siapa yang mengajari mereka hal-hal seperti itu? Apakah mereka benar-benar “tidak berdosa”? Kenapa sang paman tampak tidak mau mengurusi mereka? Apakah mereka benar-benar anak-anak?

Tidak semua pertanyaan di atas dijawab oleh Jack Clayton—sutradaranya. Namun, seriously, film ini ditutup dengan adegan akhir yang sangat ambigu. Begitu ambigu-nya sampai saya mangap. Film tahun 1961 ini menyentuh begitu banyak hal dengar cara tersirat dan diam-diam (dan ada juga yang terang-terangan) yang—saya yakin—masih dianggap tabu pada jamannya. Judul film ini boleh saja The Innocents. Namun substansi-nya, tokohnya, perbuatan tokoh-tokohnya, mencerminkan kekerasan. Sutradaranya secara sneaky memasukkan aspek-aspek amoral tersebut dalam ceritanya sedemikian rupa sehingga nyaris tidak kelihatan. Namun picingkan mata anda sedikit, dan coba lihat gerak gerik setiap tokoh serta tindakan-tindakan mereka, dan anda akan bergumam “Omaigod.” Seperti melihat hantu.

We lay my love and I
Beneath the weeping Willow
But now alone I lie
O, Willow I die.
O, Willow I die.

(O Willow Waly—the children’s song from The Innocents)