Blog ini dciptakan oleh saya untuk menampung ulasan-ulasan film yang telat saya tonton.Sebagian dari ulasan-ulasan di sini sudah lama saya bikin sebagai wujud kegemaran saya pada film.Saya memasukkan ulasan-ulasan ini di dalam blog, karena sayang juga kalo smpe ilang.So there you have it. A bunch of stupid-ass movie reviews for you to laugh at/laugh with.Enjoy.
Jumat, 01 April 2016
Batman v Superman: The Dawn of Justice
Batman v Superman Trailer
Pertama dari look film-nya dulu. Berbeda dengan film-film Marvel yang penuh warna dan membingkai adegan aksinya dengan jelas (walaupun sering kali sulit diikuti lantaran terlalu banyak kejadian dalam satu frame (I'm looking at you, Avengers), BvS hampir sepanjang durasi film (kurang lebih dua setengah jam) diselimuti kelam, mendung dan malam, seolah-olah langit cerah, berpelangi atau bahkan cerah berawan cuma terjadi di belahan bumi lain. Tone warna film ini yang nyaris monokromatik menyiratkan bahwa film ini akan menjadi sebuah tontonan yang serius, bahkan berisi--paling tidak dalam ukuran film superhero. Bisa jadi BvS ingin mengikuti jejak seri Batman besutan sutradara Christopher Nolan yang sukses membawa genre ini ke tempat terhormat di dunia perfilman. After all, film kedua dari seri Batman besutan Nolan yang berjudul The Dark Knight (2008) berhasil mengantarkan mendiang Heath Ledger memenangkan piala Oscar tahun 2009. Sebuah prestasi yang jarang (atau bahkan tidak pernah?) dicapai oleh film-film dalam genre ini. Luar biasanya lagi, piala Oscar tersebut dimenangkan setelah meninggalnya Ledger. Kemenangan ini pun tidak dirasa mengagetkan. Hampir semua kritikus dan penonton sudah hakulyakin piala berlapis emas itu akan jatuh ke tangan mendiang aktor tersebut, sama dengan yakinnya kritikus dan penonton atas kemenangan Leonardo DiCaprio tahun ini untuk film The Revenant. Salah satu kunci keberhasilan Ledger dalam memerankan Joker, selain insting keaktorannya yang hebat (dia tidak pernah terlihat berlebihan, walaupun berperan sebagai kriminal sakit jiwa), adalah naskah filmnya yang apik. Hal ini tidak saya temui di BvS. Menurut pandangan saya, BvS ini termasuk ke golongan film dengan ''style over substance' atau bahasa gaulnya: 'kebanyakan gaya'. Menurut saya, di permukaan, BvS terasa begitu mirip dengan The Dark Knight dari mulai tone warna, cara tokoh-tokohnya berinteraksi (sepertinya harus selalu dengan air muka serius, tegang atau dingin), dialognya, sampai musiknya. Namun bedanya, nyaris semua komponen tersebut kurang memperkuat plot-nya. Padahal BvS punya pertanyaan yang menarik: Apa Anda yakin perbuatan Anda, yang menurut Anda bertujuan baik, tidak menimbulkan bencana yang lebih besar bagi (lebih banyak) orang lain? Seandainya Anda punya kekuatan seperti Superman atau endless resources as owned by Batman (atau katakanlah senjata nuklir) dan berjanji hanya menggunakannya untuk kepentingan "orang banyak", "orang banyak" yang mana yang Anda bicarakan?
Pertanyaan tersebut tidak hanya dapat ditujukan kepada putra Jor El, namun juga Batman dan Lex Luthor (atau para penguasa dunia, grup teroris sampai ormas anarkis di dunia nyata). Namun sayangnya tidak dijawab sama sekali di film ini, karena sutradaranya lebih mementingkan the sole hook of the movie, yaitu Batman dan Superman berantem, guling-gulingan, tinju-tinjuan, at the expense of the civillians they were suppossed to be protecting. Tidak digambarkan adanya penyesalan diantara kedua superhero ini atas kerusakan dan bahkan kematian yang mereka buat. Wouldn't it be nice (character wise) to have Superman, the boyscout of all superheroes, uncertain about his intentions, the effects of his actions and his existence as an immigrant on earth? Batman pun demikian. Walaupun di atas kertas, menurut saya, Ben Affleck cocok memerankan Bruce Wayne dan Batman, dia tidak memberikan nilai apapun untuk tokoh ini selain selalu terlihat tidak senang, murung dan marah. Penyebabnya, menurut saya adalah, di film ini, si Manusia Kelelawar tidak diberikan "hati". Superman masih punya Lois Lane dan Ibunya, Martha Kent yang membuat dia paling tidak terlihat punya rasa cinta. Bruce Wayne/Batman, walaupun memang sudah yatim piatu, tidak diberikan tokoh lain yang dapat menunjukkan bahwa ia punya sisi (dan ekspresi) selain terlihat banyak pikiran. Bahkan pelayan setianya, Alfred digambarkan tidak seperti father figure bagi Bruce Wayne (sesuatu yang menurut saya menyisipkan kelembutan pada film Batman versi Christopher Nolan, thanks to the moving performance by Michael Caine) tapi hanya seperti a wiser sidekick/technician to Batman. Di dalam film sempat terlihat kostum bekas Robin (sidekick-nya Batman) yang ditaruh di tabung kaca, dengan kondisi dicoret tulisan "the joke's on you, Batman." Bukankah menarik jika BvS juga menggambarkan bagaimana Robin "menghilang" (meninggal?) dan efeknya terhadap Bruce Wayne ketimbang menunjukkan beberapa adegan Bruce Wayne meratapi mendiang orangtuanya, yang saya pikir sudah bukan hal baru bagi yang mengikuti film/komiknya?
Satu satunya peran yang menurut saya menonjol (and not entirely for the right reasons) di BvS adalah tokoh Lex Luthor yang diperankan oleh Jesse Eisenberg. Jangan salah, menurut saya, aktor ini merupakan pelakon yang salah untuk berperan sebagai Lex Luthor. Walaupun Eisenberg merupakan aktor dengan comedic timing yang spot on (lihat Zombieland), aktor yang intens (lihat The Social Network) dan sanggup membuat film komersil biasa, lebih bernyawa (lihat Now You See Me), dia bukan aktor yang memiliki range yang luas. Gerak tubuh dan cara dia men-deliver dialog sebagai Lex Luthor mirip dengan sewaktu aktor ini memerankan Mark Zuckerberg di Social Network. Pelanggaran terberat dari Eisenberg sebagai tokoh antagonis adalah, dia sama sekali tidak terlihat berwibawa, ataupun menakutkan. Setiap kali tokoh ini berbicara, ia terlihat gugup dan gemeteran. Sulit dipercaya bahwa larger than life figures like Superman & Batman fell into his traps. Itu sebabnya mengapa saat Manusia Baja dan Pendekar Kegelapan itu akhirnya adu jotos di pertengahan film akibat politik adu domba Luthor, saya tidak merasakan apa-apa. Seru? Nggak, karena saya merasa nothing is at stake, or I just couldn't buy the supervillain's plans. Eisenberg jadi menonjol karena salah tempat. Dia aktor character-driven yang dibawa ke film explosion-driven. Hasilnya nggak nyambung. But chances are, he is the only actor in the movie that viewers will talk about. Aside from Wonder Woman yang muncul di penghujung film, sayang screen time nya nggak begitu banyak.
Secara umum, film BvS ini adalah tipe film yang dijadikan movie event untuk nobar dengan teman-teman kantor/sekolah/kuliah. Keluar dari bioskop, kita akan lanjut makan dan ngopi, ngobrolin film ini sedikit, lalu lanjut ke topik lain yang lebih menarik. Film ini sendiri perlahan-lahan tenggelam dari ingatan saat matahari terbit keesokan harinya. Ini berbeda dengan The Dark Knight, yang, paling tidak, kesan positifnya (terutama performa Heath Ledger) nempel di kepala penggemar film yang menontonnya di bioskop. Atau mungkin, film superhero seperti ini sebenarnya bukan untuk saya (saya memang bukan pembaca komik. Doyannya nonton film). Tapi kalau begitu, kok dulu bisa menikmati The Dark Knight, Batman Returns, Iron Man, dan Spider-Man (versi Sam Raimi) padahal filmnya sama-sama dua jam lebih? Am I getting to old for these superhero movies? Oh well.
Dimas Rio
Selasa, 02 Juni 2015
Incompetent Reviewer Reviews 'It Follows' (2014)
It Follows (2014) Official Trailer
Nightmares often feel like B
grade horror movies. They are illogical, unexplainable, almost entirely
plot-less, with barely a hint of character development. The difference is that
bad horror movies can easily be dismissed by getting our rear ends out of the
theater (or by a flick of a remote). But we cannot shake the lingering impact
of a nightmare by simply waking up. Those can only resulted from a terrifying,
sweat-inducing nightmare. Or a very good horror movie.
2014, in my humble opinion, has
been an interesting year for horror movies, especially the indie ones. The stylish and intense ‘The Babadook’ by Jennifer Kent
garnered positive buzz and lived up to that buzz, to certain extent (I
personally thought the climax was poorly handled especially compared to the
arresting and masterful first hour). Then there were the lesser seen but
equally disturbing ‘The Canal’ (an Irish equivalent of ‘The Ring’), ‘Honeymoon’
(in which newlyweds’ happiest time was cut short by the slowly changing
behavior of the other half. Just wait until you see a f*cked up scene where the
husband pulled out something from his wife’s…from his wife’s—um, or you know
what, just cover your eyes and scream expletives for five straight minutes like
I did when you watch this) and the hilarious send up to every vampire movie
ever made from New Zealand, ’What We Do in the Shadows’. Now, ‘It Follows’, a simple,
straightforward horror movie from David Robert Mitchell deserves to be placed
near the top of those interesting indie
horror movies in 2014, if only because it is the only movie that actually
resembles an actual nightmare to the point where I feel like puking from 90
minutes of constant nervousness. And I watch horror movies regularly. The last movie that managed to reduce me into shriveling,
pants-wetting, inconsolable mess of a toddler was the Japanese version of ‘The
Ring’, and the most recent one, ‘Noroi
(The Curse)‘(2005)’, also from Japan (Yes, when J-horror works, it works like
nobody’s business. it is as if the devils have taken up residency in the heads
of Japanese horror filmmakers and produced celluloid footage from hell. And I
mean this to be the highest compliment).[1]
The reason why ‘It Follows’ works
on a primal level is due to its simplicity. It could have easily been a story
told around a campfire, during sleepovers or during an especially creepy overnight
drive across the woods— if you’re feeling like being a d*ck to your friends. It
is a story of Jay (played by the permanently vulnerable looking Maika Monroe) a
teenage girl who, after a first night of passion with her boyfriend got
transmitted with, not so much a disease but more of a curse. The curse being
that from now on, Jay will be constantly pursued by ‘it’. This ‘it’ in question
can take a form of anybody, from her loved ones like her parents and friends to
an old lady in campus, a naked woman in an abandoned building, an impossibly
tall man in the house, and so on. While this ‘it’ may seems like any other
people on the street, Jay (and we) can distinguish ‘it’ almost immediately the
moment ‘it’ appears on screen—even in wide shots—since this ‘it’ usually walks alone,
slowly and deliberately (with vacant stare to boot since this is a horror
movie) straight towards Jay—and us—without anyone seemingly able to see it. We
were informed by the douche ex-boyfriend and the nihilistic prologue that once
‘it’ reaches its target, ‘it’ will kill the said target in a gruesome manner.
For temporary solace from the ever-persistent ‘it’, one must barricade
him/herself in a closed room or building (a word of caution however, ‘it’ can
throw rocks at the window and make its dreaded entrance from there). Or, one
can transfer the curse by having sexual relations with another person. But
here’s the catch, if that transferee is eventually killed by ‘it’, ‘it’ will
move up the chain and pursue you (or in this case, Jay), again, all the way
until it reaches patient zero.
Having read the plot and watched the movie, I am quite certain that other horror hounds will find this movie unique, intriguing, haunting, even depressing since the conclusion to Jay’s fate seems inevitable. Like, how can you get away from something that will eventually find out where you are? How will you be able to sleep knowing that at any minute ‘it’ can break through an open window and get you? How can you explain to anybody of this thing that keeps following you when nobody but yourself can see it? Simply put, it’s like mortgage or tax debts only with creepy faces slapped on it.
However, herein lies my problem with this movie, especially the final hour. It does not end the way that I (and I assume also many viewers) expected. Usually in horror movies—or most movies for that matter—endings that defy expectations are mostly welcome, but not if the circumstances surrounding the main character seems to lead the character—and us—towards a clear conclusion. During a particularly confusing climax, the movie bent its rules (or added a new rule) that seriously diminished the tension that came before. And what a tense first hour it was. The director, David Robert Mitchell has successfully (at least for most of the running time) held me hostage. I couldn’t leave. I didn’t want to. Not until I know what will become of Jay and her group of offbeat friends, who eventually banded together to outrun the nameless entity. Will Jay ‘transfer’ the curse to Paul, whom she cares, or to any other boy in the risk that if that person dies, Jay will have to once again flee for her life? Or who knows, maybe Jay will try to reason with the nagging supernatural entity and they’ll both be BFF and paint each other’s fingernails in the end.
Having read the plot and watched the movie, I am quite certain that other horror hounds will find this movie unique, intriguing, haunting, even depressing since the conclusion to Jay’s fate seems inevitable. Like, how can you get away from something that will eventually find out where you are? How will you be able to sleep knowing that at any minute ‘it’ can break through an open window and get you? How can you explain to anybody of this thing that keeps following you when nobody but yourself can see it? Simply put, it’s like mortgage or tax debts only with creepy faces slapped on it.
However, herein lies my problem with this movie, especially the final hour. It does not end the way that I (and I assume also many viewers) expected. Usually in horror movies—or most movies for that matter—endings that defy expectations are mostly welcome, but not if the circumstances surrounding the main character seems to lead the character—and us—towards a clear conclusion. During a particularly confusing climax, the movie bent its rules (or added a new rule) that seriously diminished the tension that came before. And what a tense first hour it was. The director, David Robert Mitchell has successfully (at least for most of the running time) held me hostage. I couldn’t leave. I didn’t want to. Not until I know what will become of Jay and her group of offbeat friends, who eventually banded together to outrun the nameless entity. Will Jay ‘transfer’ the curse to Paul, whom she cares, or to any other boy in the risk that if that person dies, Jay will have to once again flee for her life? Or who knows, maybe Jay will try to reason with the nagging supernatural entity and they’ll both be BFF and paint each other’s fingernails in the end.
The stretched out tension, boo
moments-free, and low body count nature of this film reminds me of Ti West’s ‘The
House of the Devil’ (2009), a horror movie of the recent past disguised as an 80s
horror film, and the classic ‘Halloween’ (1978). Even the look and sounds of
this movie seems to be deliberately engineered to resemble ‘Halloween’, right
down to its unstoppable pursuer. This is not a bad thing, as ‘It Follows’
operates with a distinctive set of rules and has a slightly different tricks up
it sleeve. If not for that questionable climax, this movie would have been a
perfect pressure cooker of fear. But then again, we never do get a satisfying ending
to a nightmare since it is always cut short by our gasps or screams when we
wake. What linger first are our heartbeats, the creepy bits and pieces, and the
feeling that says, had we stayed longer in that dream, that someone—that something is going to get us. Who knows
whether we’d still be able to wake up screaming after that.
Dio
Jakarta, 2 June 2015
[1] Special mention has to be
made of an Australian horror film called ‘The Reef’ (2010) about passengers of
a capsized yacht at the Great Barrier Reef who are being hunted by a Great
White Shark. If this scenario alone does not make you want to ditch that scuba
diving plan and vow your allegiance to land-based vacations, I don’t know what
will.
Rabu, 25 Juni 2014
MENCOBA ME-REVIEW HOW TO TRAIN YOUR DRAGON 2
Nggak
ada yang ngalahin rasanya waktu kita men-discover
sesuatu yang baru. Be it a new place
to travel to, new skills to master, new things to do, or just simply new song
that we hear on the radio. That is
what I felt when I watched How to Train Your Dragon 2, the follow-up to the
2010 DreamWorks’ animated hit of the same name. A sense of discovery. Or make
it a re-discovery.
Bagi
yang nggak inget soal film pertamanya, or
simply just missed out on one of the most surprisingly inventive animated
offerings from DreamWorks (the others being the first Shrek (2001) and the
Croods (2012)), How to Train Your
Dragon berkisah tentang seorang bocah bernama Hiccup (disulih suarakan dengan
dengan cara delivery yang lempeng,
cuek dan kocak oleh Jay Baruchel—iya, cowok kurus yang bikin Seth Rogen dan
Jonah Hill berantem kayak pasutri di This
is the End (2013), anak kepala suku di pulau bernama Berk yang—beda dengan
orang Viking kebanyakan yang demen adu otot dan ngusir hama (“ngusir” as in swaying their swords and axes feverishly
dan “hama” as in dragons—they burn
the crops and steal the cattle, you see)—Hiccup lebih suka menyendiri,
“nukang” dan menemukan alat-alat canggih buat ngebuktiin diri ke bokapnya,
kepala suku di Berk bersuara bak Leonidas dari film 300. Singkatnya, Hiccup ini
kayak Thomas Alfa Edison, if Mr. Edison
were a teen, a Viking, has a dry wit, and ride dragons. Pada suatu malam,
Hiccup yang sedang menguji coba salah satu alat penangkap naga rancangannya,
tak dinyana sukses melumpuhkan seekor naga berjenis Night Fury yang konon katanya tidak mungkin ditangkap manusia karena
kecepatan terbangnya yang ngebut bak rajawali Brama Kumbara on steroids. Kecepatan terbang sang naga
ini lah yang akhirnya terganggu akibat tembakan alat Hiccup yang jitu. Hiccup,
yang tidak sampai hati menghabisi nyawa sang naga memutuskan untuk
memeliharanya dan memberikan nama Toothless (tidak bergigi)—terinspirasi dari
barisan gigi sang naga yang bisa gampang keluar-masuk. Singkat cerita, di akhir
film pertama, Hiccup menyelamatkan kampungnya dari petaka, dengan bantuan
naga-naga yang dilatihnya, dengan satu battle
wound, kehilangan satu kaki. To me,
for the supposedly kiddie movie to have its protagonist lose limbs/body part at
the end was a daring move. Konsepnya sendiri cakep: Ini tentang dua sahabat
yang saling melengkapi secara harfiah: Hiccup tidak bisa selamat di situasi
genting tanpa kemampuan terbang naganya, tapi Toothless sang naga pun juga
tidak bisa terbang sempurna tanpa penunggangnya, yaitu Hiccup dikarenakan
ekornya yang luka permanen.
When the movie was first
released, it was nominated for two Oscars (for Best Animated Feature, albeit was
beaten by the “ya-iyalah-pasti-menang”
Toy Story 3 (2010), and for Best Music Score, but was beaten by The
Social Network (2010). Saya harus bilang bahwa seharusnya film ini menang
untuk music score terbaik. Kalau ada
yang sudah sempat dengar score
albumnya, musik yang digarap komposer John Powell untuk film ini luar biasa
kerennya. Score berjudul “Test Drive”
yang mengiringi Hiccup dan Toothless saat pertama kali terbang bersama
menggunakan ekor buatan has a grand, soaring
and victorious sound dan score
“Romantic Flight” yang mengiringi Hiccup dan Astrid melayang di atas awan is warm, sweet and, well, romantic). Singkat
kata, jilid pertama How to Train Your
Dragon memukau saya yang mulai jemu dengan film animasi yang menomor
wahidkan cute factor, sulih suara
selebriti, humor slapstik tanpa
substansi (lirik sekuel-sekuelnya
Madagascar, sampe Rio). I was thoroughly
impressed with the first movie. Needless
to say that I cheered when I first saw the glorious teaser of the sequel in the
theatre. Now that the sequel is out, how does it compare?
Film
kedua ini dimulai lima tahun dari akhir film pertama. Hiccup, kini lima tahun
lebih tua, berpacaran dengan Astrid (disulihsuarakan dengan kombinasi feisty and sweet yang pas oleh America
Ferrera), hendak diangkat menjadi kepala suku oleh Stoick, sang bokap (sulih
suara oleh Gerard Butler). Tapi Hiccup yang merasa nggak punya leadership skills semumpuni bokapnya,
selalu berusaha menghindar dan memilih untuk terbang menjelajah bersama
naganya, Toothless, demi membuat what
must be a prehistoric version of google maps. Salah satu daerah baru yang
ditemukannya adalah sebuah pulau porak poranda berlapis es yang dihuni oleh gerombolan
penangkap naga beringas (surprisingly, Princess
Elsa and Princess Anna are nowhere to be found) yang dipimpin oleh pemuda
bernama Eret. Eret & the geng ini ternyata terafiliasi dengan seorang dragon master bernama Drago Bludvist
(disulih suarakan oleh Djimon Hounsou, yang dijamin sukses bikin anak-anak yang
nonton film ini trauma) yang tujuan hidupnya adalah menguasai semua naga yang
ada di dunia supaya bisa dengan mudah menjajah orang-orang yang nggak sepaham
sama dia. Alegori terhadap penguasa yang membangun kekuatan militer untuk
menekan rakyat dan bangsa lain bisa dilihat dari sini. Pun dengan keyakinan
Hiccup untuk menjalankan politik luar negeri berbasis diplomasi dan keyakinan
sang bokap bahwa nggak ada gunanya bernegosiasi dengan teroris macam Drago
Bludvist (“people who kill people without reason cannot be reasoned with,” gitu
katanya).
Singkat
kata, ada banyak adegan perang. Banyak adegan naga terbang. Banyak aerial shots pemandangan alam. Pokoknya
semua boilerplate film kolosal yang
udah dipatenkan lebih dulu oleh Lord of
the Rings. Tapi semua adegan tadi bisa kerasa punya weight, gravity and emotion due to the care applied to character
development. Ini adalah aset terbesar How
to Train Your Dragon 2. Penonton dibikin care terhadap tokoh-tokoh utama di film ini, terutama sekali Hiccup
dan Toothless. Ini dicapai melalui ekspresi mata tiap tokoh yang hidup dan
berbicara, humor slapstik tapi subtil (most
of the physical comedy occurs in the background while other important
scene/dialogue is happening), dan sulih suara yang total dari semua voice actors-nya. Jay Baruchel
menginjeksikan dimensi lain ke dalam Hiccup—tidak lagi hanya jadi vessel untuk dialog dan reaksi awkward, tapi juga hesitance and ultimately, heroism. Gerard Butler menunjukkan bahwa
pelakon film tidak hanya harus punya screen
presence tapi juga voice presence.
Karakter Stoick punya nyawa dan kehadiran karena dia. Cate Blanchett brings a strong and yet ethereal quality dalam
karakter Valka, ibu Hiccup yang tiba-tiba muncul setelah dua puluh tahun disangka
wafat. However, the star of the show is
still Toothless, seekor naga yang entah gimana oleh para animator
DreamWorks dibikin kurang ajar menggemaskannya. Kuat-kuatin batin aja saat
anak/keponakan anda jerit-jerit minta dibeliin naga buat jadi binatang piaraan.
Sedikit
nitpicking, kalaupun ada yang kurang
nendang di film ini adalah music score-nya. Music score “Test Drive” yang megah
yang ada di film pertama sayup-sayup terdengar di film kedua ini tapi di
overlap dengan vokal dan dibikin mirip lagu pop (at least that is what it sounds like in my inexperienced ear)
ngebuat adegan terbang Hiccup dan Toothless nggak semegah dahulu (then again, kata The Groove, dahulu
semua indah.. so..). Tender moments in the first movie, seperti
waktu Hiccup terbang bersama Astrid atau saat Hiccup dan Toothless melalukan “bonding
time” juga nggak banyak di film ini. Terlepas dari satu adegan Stoick (Gerard
Butler) mengingatkan istrinya akan lagu pernikahan mereka yang joyful dan infectious, kayaknya How To Train Your Dragon 2 memang sengaja
dibuat lebih gelap (bersiaplah untuk menyaksikan sebuah (atau beberapa buah) plot development(s) yang membuat film
ini secara instan memiliki sense of
maturity and realness) dan lebih mengedepankan
action bagi penontonnya. And its not
a bad thing. In fact, taken as a whole, How to Train Your Dragon 2 is frikkin’
awesome. Setuju sama salah satu kritikus film yang gue baca di metacritic.com, kalo
sekuel pertamanya aja masih sebagus ini, here’s to How to Train Your Dragon 3
to 20!
Rabu, 06 Maret 2013
Mencoba Me-Review BELENGGU
Belenggu Official Trailer
Thrillers are fun. Pandangan ini semakin mantap terpatri di kepala gue setelah menonton film buatan anak negeri berjudul Belenggu. Menurut gua unsur “thrill” yang menyesap ke dalam setiap karya (be it 2D movies, 3D movies, video games, sports, books, rides at the park, plays, even food, or anything we could think of) itulah yang membuat setiap kreasi sekonyong-konyong memiliki sifat interaktif dan membuat para penikmatnya atau penumpangnya atau penontonnya serta merta bereaksi. Startled. Surprised. Pleasantly so. It provides us with that extra kick, that extra jolt, that extra gasp. Dalam ranah film, saya rasa semua genre film, dari mulai drama romantis sampai komedi srimulat, dari Indiana Jones sampai Brama Kumbara-nya Indosiar, punya thrill factor which appeals to their respective target audience (Baiklah, maybe not Brama Kumbara tapi kira-kira begitulah intinya).
Thrillers are fun. Pandangan ini semakin mantap terpatri di kepala gue setelah menonton film buatan anak negeri berjudul Belenggu. Menurut gua unsur “thrill” yang menyesap ke dalam setiap karya (be it 2D movies, 3D movies, video games, sports, books, rides at the park, plays, even food, or anything we could think of) itulah yang membuat setiap kreasi sekonyong-konyong memiliki sifat interaktif dan membuat para penikmatnya atau penumpangnya atau penontonnya serta merta bereaksi. Startled. Surprised. Pleasantly so. It provides us with that extra kick, that extra jolt, that extra gasp. Dalam ranah film, saya rasa semua genre film, dari mulai drama romantis sampai komedi srimulat, dari Indiana Jones sampai Brama Kumbara-nya Indosiar, punya thrill factor which appeals to their respective target audience (Baiklah, maybe not Brama Kumbara tapi kira-kira begitulah intinya).
Lalu apakah
faktor “thrill” saja cukup untuk
memasung atensi penonton selama 90 menit plus plus sampai-sampai mereka (a)
lupa waktu (b) lupa napas, (c) lupa makan popcorn, (d) lupa pipis, (e) mendadak
galak sama istri/pacar/temen/selingkuhan yang kebanyakan nanya pake bisik-bisik,
(f) bawaannya pengen nendang penonton yang terus terusan jalan mondar mandir
nutupin layar yang ngebuat bisokop terasa seperti pertunjukan wayang orang dan
(g) ngomel-ngomel ke tokoh-tokoh di layar dengan volume suara yang lebih keras
dari yang sepatutnya, wis persis koyo Mbak Sumi, Mbak Imah atau Mbak Iyem yang
lagi nonton film India saat Nyonyah lagi kondangan? Jawabannya tentu saja
tidak. Sebuah film thriller
khususnya, akan semakin menarik jika ditambah teka teki. Lebih asik lagi kalau
tokoh utamanya idupnya susah. Sejauh ini saya belum menemukan film thriller
seru dimana tokoh utamanya adalah seorang miliarder muda tampan jenius philanthropist nan soleh pemenang Nobel yang
baru kawin sama model Victoria Secret yang tidak pernah bolong sholat taraweh-nya
(Bahkan Mas Boy dan Mbak Vera aja nggak gitu-gitu amat[1]).
Kondisi tokoh macam begini baru bisa jadi menarik dalam ranah film thriller jika ternyata: (a) harta si
tokoh utama ternyata berasal dari hasil bisnis-nya yang illegal, yang mulai terendus
oleh polisi, kompetitor usaha, KPK atau Indonesian Corruption Watch, atau (b) istrinya
selingkuh dengan pria lain, yang membuat sang suami menjadi cemburu, paranoid,
licik dan murderous atau (c) suatu
sang tokoh utama tiba-tiba terbangun dan mendapati bahwa perusahaan yang
dimilikinya telah dikendalikan orang lain (biasanya sahabatnya sendiri) tanpa
sepengetahuannya dan istrinya telah dimiliki orang lain (lagi-lagi, biasanya
sahabatnya sendiri) dan parahnya, sang istri mengaku tidak pernah mengenal sang
tokoh utama seumur hidupnya (atau yang paling ekstrim, sang istri, anggaplah
namanya Maria, mengaku bahwa dirinya dulu sempat bernama Marjono). Dari ketiga boilerplate plot film film thriller sebagaimana diuraikan di atas
(dan juga banyak contoh boilerplate lainnya), saya paling gandrung
dengan model yang ketiga (i.e. model
(c)) yaitu: “Pertama Kuras Bisa Lemes” (Pemain
Utama Kurang Waras Bikin Pemirsa Lantas Gemes).[2]
Maksudnya, di film thriller model
begini, biasanya sang tokoh utama does
not have any f*cking clue of what is going on dan sialnya (atau asiknya?)
penonton ditempatkan pada posisi sama clueless
nya dengan sang tokoh utama. Kenapa penonton kemudian masih mau maunya rooting for such a clueless character?
Karena biasanya si tokoh digambarkan sebagai orang yang baik, sincere, charming, vulnerable, caring, etc, which makes us end up sympathizing
with him/her/it. Banyak banget
thriller hebring yang make scheme model begini, diantaranya Flightplan-nya Jodie Foster, Unknown-nya Liam Neeson, Shutter Island-nya Lenoardo DiCaprio,
sampe duo Pintu Terlarang dan Modus Anomali yang dibesut oleh one of Indonesia’s most valuable filmmaker,
Joko Anwar. Sekarang nambah lagi satu film yang memakai skema serupa, yaitu
Belenggu oleh Upi Avianto.
Saya tidak akan
membeberkan dengan detil plot film Belenggu ini karena seperti yang temen-temen
moviegoers pasti sudah pahami going to a movie like this is that it is better to have almost no clue as to
what the movie is about or where it is heading, so that we can experience every confusion, jolt, twists (even the lame
ones) without any heads up from any reviewer. Kasarnya, mau twist nya keren
atau hanya “oke deeehh..” biarin aja penonton alami sendiri. Anyway, inti dari film Belenggu ini
adalah tentang kehidupan sosok pria bernama Elang (diperankan oleh Abimana
Aryasatya) yang tampaknya tinggal sendirian di sebuah rumah susun kumuh, dan
selalu dihantui oleh mimpi (atau bukan mimpi?) buruk mengenai pembunuhan
terhadap seorang wanita muda (Laudya Chintya Bella) dan putri semata wayangnya,
aksi pembunuhan mana dilakukan oleh seseorang dalam kostum kelinci merah jambu yang
tersenyum. Dengan mimpi seedan ini setiap hari, wajar saja jika raut wajah
Elang sepanjang film selalu tampak seperti habis menelan seratus bungkus permen
Kopiko (alias kurang tidur). Yang bikin dia semakin susah tidur? Ternyata wanita
muda (dan putrinya) yang ada dalam mimpinya itu adalah salah satu penghuni di
rumah susun yang ditinggali Elang tersebut. Ini membuat Elang khawatir kalau
kalau mimpi buruknya selama ini merupakan ramalan atas tragedi yang akan
terjadi di masa depan. To makes matters a
bit more complicated, Elang juga selalu dibayangi oleh kehadiran seorang
PSK (bukan, bukan Penjual Sate Kambing) misterius (Imelda Therine) yang selalu
muncul di bar tempat Elang bekerja sebagai barista dan mengundang adoration yang begitu besarnya dari pria
tersebut everytime he lays eyes on her.
Sebenarnya apa maksud mimpi buruk yang menghantui Elang? Apa maksud penampakan
kelinci merah jambu bergelar Cucu Kornet (Lucu
Lucu tapi Kok Hardcore Nyet) di setiap mimpinya? Dan siapakah gadis
misterius yang selalu muncul di bar tersebut? Tidak adakah yang tahu akun Facebook-nya? Apakah Elang sanggup
menghadapi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas? Dan yang
terpenting, puaskah penonton atas jawaban-jawaban yang diberikan sang
sutradara?
Untuk pertanyaan
terakhir, jawabannya subjektif, tergantung tingkat toleransi, preferensi dan
ujung-ujungnya, selera penonton. Untuk gue pribadi, Belenggu secara keseluruhan
adalah sebuah persembahan yang sangat solid. It really feels like a distant cousin to Joko Anwar’s Kala and Pintu Terlarang, not to say that the twist(s) are identically similar to those
aforementioned movies. Yang mirip sebenarnya adalah setting kota antah
berantahnya (seperti di film Kala, kota tempat Elang tinggal tidak pernah di declare, dan tidak tampak seperti di Indonesia).
Bedanya, Belenggu lebih manic dalam melempar clue dan membuka rahasia-rahasianya,
bahkan saya merasa seperti Upi, sang sutradara seperti sengaja tidak
memperdulikan kenikmatan penonton selama 30 menit pertama dan membiarkan
penonton tersesat bersama Elang, bingung bersama Elang, pusing, disoriented bersamanya. Di menit-menit
itu saya sempat berfikir bahwa film ini (dan sutradaranya) sedikit pretensius
(its as if Upi says: “Oh lets just throw
as many confusing, disjointed scenes one over the other as possible. In one
minute we can do Elang’s nightmare scene, the other minute, Elang is in the
real world—or is he? Lets throw in that damn bunny again. AFTER THAT we do the
real world scenes”). Tapi ternyata pandangan sinis saya diputarbalikkan
oleh Mbak Upi di tengah-tengah film sampai akhir, karena, menurut saya, semua pertanyaan dijawab dengan baik. Pasti akan ada yang masih juga tidak
puas, tapi film ini tetap harus dapat perhatian dari penikmat film Indonesia. I can tell that this movie is made with
care, without dumbing down its audience. It is well acted (Si Pemeran
Elang, Abimana Aryasatya is a revelation.
Menurut saya dia punya subtlety yang
tidak dimiliki oleh aktor Indonesia generasi muda pada umumnya. Jika
dibanding-bandingkan, performa Abimana sebagai haunted/troubled person bahkan lebih hebat lagi dari Rio Dewanto
dalam Modus Anomali ataupu Fachri Albar di Pintu Terlarang. Dan untuk Laudya
Chintya Bella, dia beneran manis bener film ini. Dia lah yang memberikan secercah
aura kelembutan in an otherwise a full on gloomy and creepy movie.
Akhir kata, saya
berikan semua jempol yang saya punya kepada sang sutradara, mbak Upi Avianto,
yang berdasarkan film-film dia yang sudah saya tonton (the fun debut: 30 Hari Mencari Cinta, the uber cool Realita Cinta & Rock n Roll, the almost equally cool Radit dan Jani) merupakan sutradara cewek
anti menye-menye yang selalu berkembang di setiap karyanya. Oh, kecuali Serigala Terakhir yang ended up being a laughing stock back when I
watched it at the theatre tapi bounce
back dengan film se-niat ini, my
respect has only continued to grow.
Cheers,
[1] Jika Anda masih paham dengan
referensi ini, kemungkinan Anda termasuk ke dalam golongan usia yang (a) tidak
peduli dengan Bella dan Edward
dan/atau (b) terheran-heran dengan apa bagusnya Harlem Shake dan/atau (c)
bingung dengan kepopuleran grup boyband/girlband Korea.
[2] Woi maksa woi.
Langganan:
Postingan (Atom)



